Senyummu Mengobati Lukaku

13279975411135797146

Tepat pukul 08.30 saya membuka pintu Bank dan langsung disambut oleh pak Satpam. “Selamat pagi Pak?, ada yang bisa saya bantu?” sapanya. “Selamat pagi juga. Saya mau buka rekening pak” ujar saya.

Sekalipun saya agak pagi datangnya, ternyata ada teman dari pelosok Lombok Selatan yang sudah datang sejak pukul 07.00 karena sudah membayangkan harus antri seperti biasanya di Bank.

Lama menunggu lantas berbunyi speaker dan tertulis di layar monitor komputer: “Nomor 4… 5….6…… ………”
Padahal nomor antrian saya nomor 23. Waduh kapan giliran saya ya?
Perasaan sudah mulai tak sabar.

Saya lihat jarum jam menunjukkan pukul 11.00, berarti saya antri sudah 2,5 jam.
Rasa bosan antri sudah menerpa. Dua orang teman yang antri di sebelah saya hampir bertengkar dengan pak Satpam, gara-gara dia terlompat nomor antriannya. Nomor antriannya 3 harus dibatalkan karena dia baru datang dari beli map. Padahal dia sudah dipanggil berkali-kali. Teman ini pun marah dalam hati dan mengatakan “Bank ini tidak memuaskan, pelayanannya jelek“.

Ya wajar saja, sudah antri 3 jam tiba-tiba nomornya ditukar menjadi nomor 31 oleh Pak Satpam atas perintah dari mbak CS. Itu artinya dia akan dapat giliran sehabis zhuhur (sekitar jam 14.00).

Saya pun juga bisa membaca ketidakpuasan pelanggan di Bank ini. Nasabah dan calon nasabah cukup banyak sementara karyawan di bagian “Customer Service” hanya ada 2 orang. Seharusnya Bank-bank daerah yang mulai menggeliat maju (semenjak otonomi daerah) bisa semakin profesional melayani nasabah. Jangan sampai ketus melayani pelanggan akan berakibat fatal buat kelangsungan Bank itu sendiri. Bukankah di mana-mana bank atau jenis jasa lainnya akan selalu menomorwahidkan pelanggannya?. Pelanggan seperti raja. Lihat saja bagaimana Pramugari nan cantik di atas pesawat terbang selalu menebar senyum semenjak kita memasuki pintu masuk hingga kita turun dari pesawat.

Tapi untunglah ada mbak Mimie yang manis dan ramah. “Nomor 23….”. Saya lantas maju dan mbak Mimie menyodorkan tangannya untuk bersalaman layaknya sudah kenal saja sama saya (he he). Saya pun menyodorkan berkas. “Pak Subki ya? Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?”. Senyum manisnya mbak mimie menghilangkan rasa penat selama 4 jam antri di Bank yang mulai ramai didatangi oleh nasabah, khususnya para guru penerima Tunjangan Profesi.

Apalagi dengan senyuman manis dan wajah ramah “mbak Utami” sang Teller yang memang cantik built in itu.

Mbak Mimie dan mbak Utami sudah menjalankan tugas keprofesiannya dengan baik. Bukan saja kecantikan fisik seorang pegawai Bank, tetapi senyumnya saja sudah bisa mengobati kedongkolan hati nasabahnya.

Satu pelajaran berharga yang bisa kita ambil di sini -terutama para karyawan atau staf yang bekerja di bidang jasa, seperti pegawai Bank atau Guru- adalah melayani pelanggan (customer) atau murid haruslah diutamakan agar terjadi kepuasan di kedua belah pihak. Sebagai guru, kita harus memberikan pelayanan prima terhadap murid kita layaknya pegawai bank yang menjalankan motto banknya “memberikan pelayanan secara prima“. Bagi pihak bank NTB, tingkatkan pelayanan konsumen agar tetap disukai pelanggan. Jalankan Visi anda “Amanah, anda yang utama“. Jangan sampai karena nasabah jadi dongkol karena ketidakramahan salah seorang CS atau satpam anda, maka bank anda akan dicap “Bank Tidak Baik Pelayanannya”.

Bagi seorang guru, senyum, sapa, dan salam guru kepada muridnya bisa menambah kepercayaan diri siswa dan membuat siswa senang kepadanya.

Maka….Senyumlah, lihat apa yang terjadi.

Mr Q

http://www.kompasiana.com/subkioke

Pembayaran Ke-3 dari ODAP

Malam ini saya menerima email dari ODAP, yang meninformasikan bahwa ODAP sudah mentransfer income Rp. 420.000,- ke rekening BCA saya.

Ini buktinya, jadi jangan ragu. ODAP terbukti aman (sitelock secure) dan pasti membayar kalau sudah batas payout 400 ribu.

Klik Linkdi bawah  ini jika mau mencoba mendapat uang sampingan untuk kuliah, bayar utang, dll. Kerja mudah hasil melimpah.

LIHAT INFONYA DI SINI

 

 

Soal Try Out Fisika & Kunci Jawaban

Yth. rekan guru fisika se-Lombok Timur dan yang ada di seluruh dunia. Berikut ini soal Try Out I Fisika TP 2011-2012 yang sudah selesai digunakan pada kegiatan Try Out I UN tanggal 17 Januari lalu. Semoga bisa menjadi bahan belajar buat anak didik kita di sekolah.

“Gelombang Korea” Menerjang Dunia

Gelombang budaya pop Korea sedang menerjang dunia. Tengoklah, anak muda di mana-mana histeris melihat aksi boyband/girlband Korea. Inilah puncak gunung es dari kisah tentang penetrasi budaya pop Korea di sekitar kita.

Penyanyi Korea, Shi Min-chul, muncul di atas panggung ulang tahun ke-17 Indosiar diiringi jeritan histeris penggemarnya, Kamis (12/1) malam, di Jakarta. Ia berkata, “Saya suka Indonesia, terutama cuaca, makanan, dan… gadis-gadisnya!” Sontak ratusan perempuan yang mendengar ucapan Shi Min-chul klepek-klepek. Mereka berjingkrak-jingkrak kegirangan. “Aaaahhh…. Aku mau jadi gadismu,” jerit seorang gadis belia.

Begitulah penampilan band-band Korea yang mengusung musik pop Korea (K-Pop), seperti Super Junior, Park Jung-min, The Boss, Girls’ Generation, X5, dan N-Sonic, mampu membangkitkan histeria di mana-mana, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di banyak negara, mulai dari Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika.

Hal yang mengagetkan, penggemar K-Pop begitu fanatik. Nadhila (18), remaja asal Bekasi, misalnya, saking cintanya kepada band Korea pernah nekat memburu personel band asal Korea, X5, di Bandara Soekarno-Hatta. “Saya sampai lemas dan kehilangan kata-kata,” kata Nadhila menggambarkan perasaannya ketika berjabat tangan dengan Haewon, personel X5.

Belum puas, Nadhila menguntit X5 hingga ke hotel tempat mereka menginap. Ceritanya cukup dramatis. Ia menyamar sebagai wartawan agar bisa menembus barikade pengamanan hotel. Bersama rombongan wartawan, Nadhila berhasil menemui X5 di lobi hotel. Saking senangnya, ia menjerit keras. “Semua kaget dan menoleh ke arah saya,” kenang Nadhila, yang kini menjadi personel Ladyschool, coverband Afterschool asal Korea.

Imajinasi Korea

Banyak orang menyebut serbuan K-Pop sebagai hallyu atau gelombang Korea (Korean Wave). Gelombang ini awalnya dipicu keranjingan orang terhadap drama romantis Asia, termasuk drama Korea. Dari sini, anak muda Asia kemudian mengenal K-Pop dan menggilainya. Maklum, K-Pop tidak hanya memanjakan telinga dan mata, tetapi juga menancapkan imajinasi tentang selebriti Korea yang berpenampilan apik dan berwajah semulus porselen. Tidak heran, kini banyak anak muda yang ingin “dicetak” seperti selebriti Korea.

Dewi (23), misalnya, seumur-umur tidak pernah mengubah rambutnya yang hitam dan lurus panjang hingga pinggang. Namun, setelah kepincut penampilan artis Korea, ia memotong rambut dan mengecatnya menjadi coklat. Ujung rambutnya dibuat ikal mirip gaya rambut sejumlah artis top Korea. “Saya tidak mencontoh penampilan artis Korea tertentu. Pokoknya gayanya harus Korea,” kata Dewi, yang ditemui di Salon Johnny Andrean di Plaza Semanggi, Rabu.

Hasrat berpenampilan ala Korea ini ditangkap sejumlah pengusaha salon di Jakarta. Mereka ramai-ramai mengusung tema K-Cut Style (potongan rambut Korea). Sederet butik kosmetik Korea, seperti Skin Food, The Face Shop, dan Missha, pun merangsek masuk ke Indonesia. Bahkan, toko roti Korea pun mulai tumbuh di Jakarta.

Ya, tanpa kita sadari, produk serba Korea telah mengepung kehidupan kita, mulai dari mobil, alat elektronik, gadget, hingga jaringan hipermarket Korea. Bahkan, “kampung” Korea juga tumbuh lengkap dengan fasilitas seperti bank, klinik, salon, restoran, hotel, kos-kosan, supermarket, dan toko perlengkapan golf Korea di Jalan Senayan, Jakarta, serta Ruko Pinangsia Office Park, Karawaci, Banten.

Perwakilan perusahaan Korea tumbuh subur di Indonesia. Berdasarkan data Pusat Kebudayaan Korea di Indonesia, saat ini, ada 1.300 kantor cabang perusahaan Korea yang didirikan di Indonesia. Seperti kata Yoon Jae-kwon, salah satu agen artis Korea, “K-Pop sebenarnya hanyalah bagian kecil dari gelombang (penetrasi budaya) Korea ke sejumlah negara.”

Latihan keras

Bagaimana Korea bisa mengekspor produk budaya popnya? Kim Hyun-ki, Direktur Pusat Kebudayaan Korea di Jakarta, menceritakan, awalnya Pemerintah Korea berperan banyak. Sekitar 20 tahun lalu, misalnya, pemerintah memberi beasiswa besar-besaran kepada artis dari berbagai bidang seni untuk belajar di AS dan Eropa. Dari program itu lahirlah artis-artis berpengalaman.

Seni pop Korea—termasuk K-Pop—pun berkembang. Selanjutnya, K-Pop digerakkan sepenuhnya oleh pihak swasta. Kini, ada ratusan rumah produksi yang setiap tahun mencetak banyak artis K-Pop.

Yoon Jae-kwon menceritakan, semua artis K-Pop digembleng selama enam bulan hingga satu tahun. Tampilan fisik mereka juga dipoles sebelum diluncurkan sebagai artis tingkat global. “Sistem pelatihan ini sudah ada sekitar tahun 1990-an dan sangat dirahasiakan. Bahkan, calon penyanyi tidak akan tahu sistem itu sampai mereka ikut pelatihan.”

Korea, kini, memetik buah dari keseriusan menggarap industri pop mereka. Etnews.com, situs berita teknologi informasi Korea mengutip data The Korea Creative Content Agency, memprediksi, pendapatan Korea dari ekspor budaya pop, termasuk musik, sinetron, dan games, di seantero dunia tahun 2011 berjumlah sekitar 3,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35 triliun. Angka ini meningkat 14 persen dibandingkan dengan 2010.

K-Pop juga mendongkrak citra Korea. Jutaan orang tertarik berkunjung ke Korea, termasuk menengok Pulau Nami di Provinsi Gangwon-do yang menjadi lokasi shooting Winter Sonata, sinetron Korea yang meledak tahun 2002. Choi Jung-eun, staf pengelola Pulau Nami, mengatakan, dulu pulau kecil dan sepi itu hanya dikunjungi sekitar 200.000 turis per tahun. Kini, pengunjungnya rata-rata 1,6 juta turis setahun.

Zaman Asia

Gelombang Korea mengalir deras dan tak tertahankan ke sejumlah negara. Ini memang zamannya Asia. “Tidak heran proses asianisasi terhadap kebudayaan global pun terjadi,” ujar pengamat komunikasi Idi Subandy.

Proses pengglobalan budaya pop Korea ini, menurut sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Robertus Robert, sama dan sebangun dengan pengglobalan produk kebudayaan industri kapitalistik lain, seperti burger McDonald dan Coca-Cola. Korea bisa melakukan itu karena residu kebudayaan dominan di Asia memang dekat dengan Korea, selain Jepang dan China. Persebaran penduduk Korea, Jepang, dan China di berbagai belahan dunia kian mengukuhkan dominasi kebudayaan mereka.

Nah, bagaimana dengan Indonesia? Fenomena orang keranjingan budaya pop Korea di sini kian menegaskan bahwa Indonesia hanyalah pasar yang diperebutkan. Robertus Robert pesimistis kita bisa mencetak “Indonesian Wave”. Pasalnya, industri hiburan kita lebih cenderung mencetak pengekor daripada inovator.

Sayang memang. Ini tantangan bagi industri kreatif Indonesia

Sumber:

http://entertainment.kompas.com/read/2012/01/15/18035888/Gelombang.Korea.Menerjang.Dunia