Membaca surat komentar perihal Nasib TKI dan TKW di Yahoo News, rasanya lebih cocok jika surat/komentar itu dibaca oleh Presiden SBY secara khusus. Setidaknya ada 1.651 komentar yang masuk (Jum’at, 24 Juni 2011). Ini menandakan bahwa berita itu sangat menarik perhatian khalayak pembaca di internet.
Berikut ini beberapa komentar yang layak dibaca dan ditindaklanjuti oleh Bapak Presiden SBY dan pejabat terkait.
Wahai para pemerhati masalah TKW Di Arab Saudi khususnya Migran Care dan Masyarakat Seluruh Indonesia. Kasus Ruyati adalah satu dari Puncak Piramida kasus2 TKW Di Arab Saudi.
Saya bekerja Di Arab Saudi selama 8 th Di Kontraktor khusus utk proyek2 Saudi Aramco.
Saya tahu persis bahwa tidak jauh dari Masjidil Haram, ada pasar yg namanya populer di kalangan orang Indonesia yaitu Pasar Seng. Nah, di belakang Pasar Seng tsb banyak jalan2 sempit naik turun, dan sekitar daerah tsb terdapat ratusan TKW yg terlantar yg utk sementara disembunyikan oleh jaringan orang2 Jawa Timur. Keadaan mereka sangat memprihatinkan. Yang kemarin berada Di bawah jembatan layang itu, yg banyak ditayangkan oleh Media itu, hanyalah tidak lebih dari 5 % nya. Yg dibawah jembatan layang tsb adalah yg sdh betul2 sdh lolos dari sekapan jaringan. Selama dlm sekapan jaringan, mereka sering dijual ke polisi2 sekitar Mekkah dan Jedah. Dan bahkan seorang sopir dari Indonesia pun bisa membawa mereka utk beberapa hari dg membayar beberapa lembar real dg cara dibuatkan Surat Nikah Palsu dan sdh barangtentu utk urusan syahwat. Mereka para TKW tsb sama sekali tak berdaya krn tak punya pasport (passport msh dimajikan), tak punya uang. Dan utk bisa pulang mereka hrs mau menjual diri, mengumpulkan uang dikit2 kemudian menjual diri lagi ke polisi2 sambil merayu polisi2 tsb agar dibuatkan surat pengantar utk beli tiket. Surat pengantarnya seolah-olah mereka adalah jemaah Umrah Indonesia yg tersesat dan ketinggalan dari rombongannya. Perlu diketahui bahwa pemerintah arab saudi ada anggaran utk memulangkan jemaah umrah yg tersesat ke seluruh penjuru dunia. Dan ini dimanfaatkan oleh polisi2 sekitar Mekah dan Jedah. Jadi polisi2 tsb syahwatnya terpenuhi + dpt real dari jaringan (utk nebus tiket) + uang dana pemulangan jemaah umrah yg tersesat (msk kantong). Jaringan orang2 indonesia yg menyembunyikan mereka juga memberi upeti ke polisi2 tsb setiap minggu. KBRI Di Riyadh dan juga KJRI Di Jedah sudah tahu mengenai ini, tapi mereka menutup mata alias memBUTA kan MATAnya. Kalau ada pihak yg mau melakukan investigasi di sana, misal Migran Care, lakukan secara diam2, jangan mencolok dan saya jamin hanya butuh 2 minggu utk bisa tahu segalanya, karena ini sdh bukan rahasia lagi di kalangan pekerja indonesia disana terutama sopir2 yg butuh pelampiasan syahwat. Jangan mengharap apa2 dari yg namanya Kemenlu, Depnaker dan PJTKI. Mereka setali tiga uang dg KBRI dan KJRI. Semoga para TKW yg terlantar tsb DIBERI KETABAHAN DAN KESABARAN. AMIN. (yg baca coment ini sebarluaskan )
Dr. angka:
Saya adalah seorang tki arab saudi tp sbg sopir, sy sudah sedikit tau kehidupan, adat istiadat serta hukum yg berlaku di negara tersebut, sy menyarankan kepada pemerintah indonesia kalau bisa stop total pengiriman PRT ke saudi arabia, banyak sekali para PRT mendapatkan perlakuan kasar dari majikan, sy sendiri pernah menolong seorang tkw yg kabur dr majikan, setelah sy tanya kenapa kabur, dia jawab majikan sy galak, sering main pukul, dan dia mendapat fitnah dituduh mencuri hp, dan gaji macet kerja selama 11 bulan dia baru menerima 3 bulan gaji, dan dia berusaha minta sisa gaji selama 8 bulan malah di jawab aku ga akan gaji kamu sampai kamu pulang karena kamu ngambil hp sy kata si majikan, itu penyebab tkw tersebut kabur, dan satu lagi permohonan dr kami atas nama TKI Saudi adakan kembali pemulangan masal menggunakan kapal laut sebab masih banyak para tki ilegal yg mengharapkan kebijakan pemerintah dengan cara itu, ini sedikit cerita pengalaman, kepada pemerintah indonesia mohon diperhatikan.
Selengkapnya, silahkan baca di sini:
http://id.berita.yahoo.com/yudhoyono-komentar-keras-dan-anjuran-jangan-jadi-pembantu.html