Oleh Hartono Ahmad Jaiz
Para pembela kafirin Ahmadiyah dan semacamnya terdiri dari orang-orang yang mengaku Islam, dan ada juga yang kafir yakni non Islam. Persoalannya, mereka yang masih mengaku Islam, tetapi kenyataannya justru membela kafirin Ahmadiyah dan kekafiran-kekafiran lainnya, apakah mereka kalau mati, mayatnya perlu disholati?
Sebelum membahas masalah itu, perlu diketahui dulu anatomi gerombolan yang membela kafirin Ahmadiyah dan aneka kekafiran dan kemaksiatan yang orang-orangnya sebagian sudah ketahuan ya yang itu-itu juga.
Mereka yang tertipu Ahmadiyah
Mereka –para cendekiawan dan tokoh masyarakat– yang tertipu oleh penjelasan PB JAI (Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia) antara lain bisa dilihat pada harian Media Indonesia edisi 26 Mei 2008 (hal. 13). Secara bersama-sama mereka pasang badan membela kesesatan Ahmadiyah seraya menakut-nakuti dan memprovokasi bahwa ummat Islam yang menolak keberadaan Ahmadiyah kelak akan “mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi dan menghancurkan sendi kebersamaan…” melalui pemasangan iklan setengah halaman di media tersebut, dengan isi sebagai berikut:
MARI PERTAHANKAN INDONESIA KITA!
Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesiaan kita. Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan ummat lain. Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menghancurkan sendi kebersamaan kita. Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.
Marilah kita jaga republik kita.
Marilah kita pertahankan hak-hak asasi kita.
Marilah kita kembalikan persatuan kita.
Jakarta 10 Mei 2008
ALIANSI KEBANGSAAN untuk KEBEBASAN BERAGAMA dan BERKEYAKINAN
A. Mubarik Ahmad
A. RAHMAN TOLLENG
A. Sarjono
A. Suti Rahayu
A. SYAFII MAARIF
AA GN Ari Dwipayana
Aan Anshori
Abdul Moqsith Ghazali
Abdul Munir Mulkhan
Abdul Qodir Agil
Abdur Rozaki
Acep Zamzam Nur
Achmad Chodjim
Achmad Munjid
Ade Armando
Ade Rostina Sitompul
Adi Wicaksono
ADNAN BUYUNG NASUTION
Agnes Karyati
Agus Hamonangan
Agustinus
Ahmad Baso
Ahmad Fuad Fanani
Ahmad Nurcholish
Ahmad Sahal
Ahmad Suaedi
Ahmad Taufik
Ahmad Tohari
Akmal Nasery Basral
Alamsyah M. Dja’far
Albait Simbolon
Albertus Patty
Amanda Suharnoko
AMIEN RAIS
Ana Lucia
Ana Situngkir
Anak Agung Aryawan
ANAND KRISHNA
Andar Nubowo
Andreas Harsono
Andreas Selpa
Anick H. Tohari
Antonius Nanang E.P.
Ari A. Perdana
Arianto Patunru
ARIEF BUDIMAN
Arif Zulkifli
Asep Mr.
Asfinawati
Asman Aziz
ASMARA NABABAN
Atika Makarim
Atnike Nova Sigiro
Ayu Utami
AZYUMARDI AZRA
Bachtiar Effendy
Benny Susetyo, SJ
Bivitri Susanti
Bonnie Tryana
BR. Indra Udayana
Budi Purwanto
Butet Kertaredjasa
CHRISTIANTO WIBISONO
Christina Sudadi
Cosmas Heronimus
Daddy H. Gunawan
Daniel Dhakidae
Daniel Hutagalung
Djaposman S
DJOHAN EFFENDI
Doni Gahral Adian
Donny Danardono
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eko Abadi Prananto
Elga J. Sarapung
Elizabeth Repelita
Elza Taher
Endo Suanda
Erik Prasetya
EVA SUNDARI
F. Wartoyo
Fadjroel Rahman
Fajrime A. Goffar
Farid Ari Fandi
Fenta Peturun
FIKRI JUFRI
Franky Tampubolon
Gabriella Dian Widya
Gadis Arivia
Garin Nugroho
Geovanni C.
Ging Ginanjar
GOENAWAN MOHAMAD
Gomar Gultom
Gus TF Sakai
Gustaf Dupe
GUSTI RATU HEMAS
Hadi Nitihardjo
Hamid Basyaib
Hamim Enha
Hamim Ilyas
Hamka Haq
Haryo Sasongko
Hasif Amini
Hendardi
Hendrik Bolitobi
Herman S. Endro
Heru Hendratmoko
HS DILLON
I Gede Natih
ICHLASUL AMAL
Ifdal Kasim
Ihsan Ali-Fauzi
Ika Ardina
Ikravany Hilman
Imam Muhtarom
Ilma Sovri Yanti
Imadun Rahmad
Indra J. Piliang
Isfahani
J. Eddy Juwono
Jacky Manuputty
Jaduk Feriyanto
Jajang Pamuntjak
Jajat Burhanudin
Jaman Manik
Jeffri Geovanie
Jeirry Sumampow
JN. Hariyanto, SJ
Johnson Panjaitan
JORGA IBRAHIM
Josef Christofel Nalenan
Joseph Santoso
Judo Puwowidagdo
JULIA SURYAKUSUMA
Jumarsih
Kadek Krishna Adidarma
Kartini
Kartono Mohamad
Kautsar Azhari Noer
KEMALA CHANDRA KIRANA
KH. ABDUD TAWWAB
KH. ABDUL A’LA
KH. ABDUL MUHAIMIN
KH. ABDURRAHMAN WAHID
KH. HUSEIN MUHAMMAD
KH. IMAM GHAZALI SAID
KH. M. IMANUL HAQ FAQIH
KH. MUSTOFA BISRI
KH. NURIL ARIFIN
KH. NURUDIN AMIN
KH. RAFE’I ALI
KH. SYARIF USMAN YAHYA
Kristanto Hartadi
L. Ani Widianingtias
Laksmi Pamuntjak
Lasmaida S.P.
Leo Hermanto
LIES MARCOES-NATSIR
Lily Zakiyah Munir
LIN CHE WEI
Lisabona Rahman
Luthfie Assyaukanie
M. Chatib Bisri
M. DAWAM RAHARDJO
M. Guntur Romli
M. Subhan Zamzami
M. Subhi Azhari
M. Syafi’i Anwar
Marco Kusumawijaya
Maria Astridina
Maria Ulfah Anshor
Mariana Amirudin
MARSILAM SIMANJUNTAK
Martin L. Sinaga
Martinus Tua Situngkir
Marzuki Rais
Masykurudin Hafidz
MF. Nurhuda Y
Mira Lesmana
MOCHTAR PABOTTINGI
MOESLIM ABDURRAHMAN
Moh. Monib
Mohammad Imam Aziz
Mohtar Mas’oed
Monica Tanuhandaru
Muhammad Kodim
Muhammad Mawhiburrahman
Mulyadi Wahyono
MUSDAH MULIA
Nathanael Gratias
Neng Dara Affiah
Nia Sjarifuddin
Nirwan Dewanto
Noldy Manueke
Nong Darol Mahmada
NONO ANWAR MAKARIM
Noorhalis Majid
Novriantoni
Nugroho Dewanto
Nukila Amal
Nur Iman Subono
Pangeran Djatikusumah
Panji Wibowo
Patra M. Zein
Permadi
Pius M. Sumaktoyo
Putu Wijaya
Qasim Mathar
R. Muhammad Mihradi
R. Purba
Rachland Nashidik
Rafendi Djamil
Raharja Waluya Jati
Raja Juli Antoni
Rasdin Marbun
RATNA SARUMPAET
Rayya Makarim
Richard Oh
Rieke Dyah Pitaloka
RIZAL MALARANGENG
Robby Kurniawan
Robertus Robett
Rocky Gerung
Rosensi
Roslin Marbun
Rumadi
Saiful Mujani
Saleh Hasan Syueb
Sandra Hamid
Santi Nuri Dharmawan
Santoso
Saor Siagian
Sapardi Djoko Damono
Sapariah Saturi Harsono
SAPARINAH SADLI
Saras Dewi
Save Degun
SHINTA NURIYAH WAHID
Sijo Sudarsono
Sitok Srengenge
Slamet Gundoro
Sondang
Sri Malela Mahargasari
St. Sunardi
Stanley Adi Prasetyo
Stanley R. Rambitan
Sudarto
Suryadi Radjab
SUSANTO PUDJOMARTONO
Syafiq Hasyim
Syamsurizal Panggabean
Sylvana Ranti-Apituley
Sylvia Tiwon
Tan Lioe Ie
Tatik Krisnawaty
TAUFIK ABDULLAH
Taufik Adnan Amal
TGH Imran Anwar
TGH Subki Sasaki
Tjiu Hwa Jioe
Tjutje Mansuela H.
TODUNG MULYA LUBIS
Tommy Singh
Toriq Hadad
Tri Agus S. Siswowiharjo
Trisno S. Sutanto
Uli Parulian Sihombing
ULIL ABSHAR-ABDALLA
Usman Hamid
Utomo Dananjaya
Victor Siagian
Vincentius Tony V.V.Z
Wahyu Andre Maryono
Wahyu Effendi
Wahyu Kurnia I
Wardah Hafiz
Wiwin Siti Aminah Rohmawati
WS RENDRA
Wuri Handayani
Yanti Muchtar
Yayah Nurmaliah
Yenni Rosa Damayanti
YENNY ZANNUBA WAHID
Yohanes Sulaiman
Yosef Adventus Febri P.
Yosef Krismantoyo
Yudi Latif
Yuyun Rindiastuti
Zacky Khairul Umam
Zaim Rofiqi
Zen Hae
Zainun Kamal
Zakky Mubarok
Zuhairi Misrawi
Zulkifli Lubis
Zuly Qodir
Di bagian paling bawah iklan pendukung kesesatan itu tercantum undangan untuk menghadiri APEL AKBAR yang diselenggarakan tanggal 1 Juni 2008, pukul 13.00 – 16.00 WIB di Lapangan MONAS-JAKARTA.
Setidaknya kita tahu, itulah nama-nama para tokoh yang berhasil ditipu mentah-mentah oleh Ahmadiyah yang sesat dan menyesatkan, serta berhasil menipu rakyat miskin yang kurang bekal iman.
Setelah muncul iklan yang sifatnya provokatif itu kemudian terjadi bentrokan di Monas Jakarta, Ahad 1 Juni 2008. Untuk mengetahui para pendukung Ahmadiyah itu ada netter yang menulis sebagai berikut:
Membongkar Jaringan AKKBB
Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.
Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.
Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan“, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:
- Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
- National Integration Movement (NIM)
- The Wahid Institute
- Kontras
- LBH Jakarta
- Jaingan Islam Kampus (JIK(
- Jaringan Islam Liberal (JIL(
- Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
- Generasi Muda Antar Iman (GMAI)
- Institut Dian/Interfidei
- Masyarakat Dialog Antar Agama
- Komunitas Jatimulya
- eLSAM
- Lakpesdam NU
- YLBHI
- Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika
- Lembaga Kajian Agama dan Jender
- Pusaka Padang
- Yayasan Tunas Muda Indonesia
- Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
- Crisis Center GKI
- Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
- Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
- Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
- Gerakan Ahmadiyah Indonesia
- Tim Pembela Kebebasan Beragama
- El Ai Em Ambon
- Fatayat NU
- Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
- Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
- Koalisi Perempuan Indonesia
- Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya
- Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
- Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
- SHEEP Yogyakarta Indonesia
- Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
- Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
- LSM Adriani Poso
- PRKP Poso
- Komunitas Gereja Damai
- Komunitas Gereja Sukapura
- GAKTANA
- Wahana Kebangsaan
- Yayasan Tifa
- Komunitas Penghayat
- Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia NTB
- Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
- Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo
- Crisis Center SAG Manado
- LK3 Banjarmasin
- Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar
- Jaringan Antar Iman se-Sulawesi
- Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
- PERCIK Salatiga
- Sumatera Cultural Institut Medan
- Muslim Institut Medan
- PUSHAM UII Yogyakarta
- Swabine Yasmine Flores-Ende
- Komunitas Peradaban Aceh
- Yayasan Jurnal Perempuan
- AJI Damai Yogyakarta
- Ashram Gandhi Puri Bali
- Gerakan Nurani Ibu
- Rumah Indonesia
Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak. Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia. (lebih lengkapnya lihat: rz/eramuslim)
Tentang demo di Monas Jakarta yang AKKBB tidak mendapatkan izin lokasi di Monas namun tetap ke sana, kemudian terjadi bentrok dengan FPI (Front Pembela Islam) 1 Juni 2008, ada yang mengaku dibayar. Berikut ini beritanya:
Anggota AKK-BB Mengaku Dibayar Saat Demo
Seorang anggota AKK-BB, Asep, sungkem ke markas FPI Jalan Petamburan,
Jakarta. Katanya, dia tak tau apa-apa. Diajak demo, dibayar Rp. 25 ribu
Hidayatullah. com—Asep (30) seorang pemuda Matraman, Jakarta, mendatangi Habib Rizieq di kantornya, Jalan Petamburan, Jakarta Barat.
Pria yang mengaku anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama
dan Berkeyakinan (AKKBB), Asep mendatangi markas FPI untuk menyampaikan penyesalanya ikut aksi di Monas.
“Saya menyesal dan insyaf dan tidak mau demo lagi. Saya juga tidak mau
dendam terhadap laskar Islam,” ujar Asep kepada wartawan di Markas FPI
Petamburan, Jakarta Selasa siang (3/6).
Mengenakan kaos biru dan kedua tanganya masih diperban, Asep menjelaskan, perihal keikutsertaan dalam aksi di Monas, Ahad (1/6) lalu. Menurut Asep, dirinya hanyalah pemuda kampung yang tidak mengetahui tentang AKK-BB. Sebab, dirinya saat melakukan demo hanya dibayar. “Saya dibayar 25 ribu untuk aksi ini dan ditambah 15 ribu karena luka-luka,” ungkapnya.
Pria lugu ini tak tahu-menahu jika AKK-BB merupakan pihak yang mendukung Ahmadiyah. Saat dirinya di taman air mancur Monas, dirinya dan temannya, Junaidi untuk ikut aksi AKK-BB. Akhirnya, dirinya dan temannya pun langsung mengiyakan ajakan anggota AKK-BB.
Kedatangan Asep ke kantor FPI setelah bertemu temannya. “Saya ke sini setelah bertemu Nouval. Saya insyaf, “ ujar Asep. “Kami bersama dari rerekan -rekan laskar lain telah meminta maaf kepada Asep dan telah menyiapkan dokter ortopedi. Sebenarnya masih ada sembilan
orang lagi, yang siap mengaku karena dibayar oleh AKK-BB,” ujar Habib Rizieq. [cha, berbagai sumber/www.hidayatu llah.com <http://hidayatullah .com/> ]
Perlukah mereka kalau mati disholati?
Di antara yang nama-namanya diiklankan dan pasang badan (298 orang) untuk membela Ahmadiyah itu ada nama-nama yang memang bukan Islam alias kafir. Tetapi kebanyakan mengaku beragama Islam, bahkan pakai sebutan KH alias Kyai Haji.
Adapun yang jelas-jelas kafir maka tentu saja tidak ada urusan dengan Islam. Yang jadi masalah adalah priyantun-priyantun (orang-orang) yang mengaku Islam, bahkan gelar kedoktorannya di bidang ilmu Islam atau bekerja bahkan memimpin perguruan tinggi Islam, atau menyandang gelar Kyai Haji (KH) yang otomatis citranya adalah ulama Islam.
Bal’am-Bal’am (nama ulama yang jadi pembela kekafiran) baru ini telah mengabdikan diri mereka untuk kekafiran, dan memojokkan ummat Islam sejadi-jadinya, bahkan memojokkan para ulama yang telah memfatwakan murtadnya kaum Ahmadiyah dan haramnya sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme). Itu semua jelas membela kekafiran bahkan kemurtadan (murtad lebih buruk dibanding kafir biasa).
Di dalam Islam, amalan yang tertinggi adalah jihad fi sabilillah, li I’la-I kalimatillah, berjihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimah (agama) Allah. Ini sebaliknya, yang mereka perjuangkan justru meninggikan kalimah syaithon. Berarti bertabrakan secara diametrical, maka kesimpulannya pun berbalikan. Kalau jihad fi sabilillah itu mendapatkan kedudukan yang mulia di dalam Islam, sebaliknya menjunjung kalimah syaithon dan membela kekafiran itu sangat hina.
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ(16)
Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS Al-Baqarah: 16).
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ(175)
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! (QS Al-Baqarah: 175).
] لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ ! كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ ! تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ[
“Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. “ (Al-Maidah : 78 s.d. 80).
Kalau kita perhatikan, maka yang banyak terjadi adalah sikap Mudahanah yaitu menjilat orang-orang kafir untuk mendapatkan kucuran dunia, bahkan lebih dari itu adalah sikap muwalat kepada mereka; setia kepada mereka dan kepada agama mereka dengan mengorbankan Islam dan umat Islam. Inilah suatu kekufuran yang dilakukan oleh orang-orang rendah. Mereka suka berkomentar buruk tentang Islam dan orangnya, menuduh dan menyudutkannya. Semua itu demi menyenangkan hati majikan yang kafir atau demi ambisi pribadi. Mereka suka berkumpul dengan orang kafir untuk membicarakan orang Islam atau untuk merajut ukhuwah dan mahabbah di antara mereka. Bagi mereka, dekat dengan orang kafir lebih menguntungkan dari pada dekat dengan orang muslim. Prilaku ini adalah prilaku munafik murni, Allah berfirman:
] وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا[
“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (an-Nisa’: 61)
Inilah sebab kekacauan dan kehancuran, karena keselamatan dari fitnah hanya bisa dicapai dengan menegakkan aqidah Wala’ dan Bara’. Perhatikanlah firman Allah berikut ini:
] وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ[
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (al-Anfal: 73)
Ibnu Katsir berkata: “Kalau kamu menjauhi orang-orang musyrik dan berwala’ kepada orang-orang mukmin, jika tidak maka terjadilah fitnah, yaitu campur baurnya orang mukmin dan orang kafir, sehingga terjadilah kerusakan yang besar dan berkepanjangan.” (Makalah AQIDAH WALA’ DAN BARA’ Oleh: Ust. Agus Hasan Bashari Lc, M. Ag).
Bila kecenderungan mereka justru membela orang kafir dalam melawan Islam, maka mereka itu dikhawatirkan akan tergolong dalam barisan kafirin. Karena Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ *. (أبو داود).
“Man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum.”
“Barangsiapa menyerupai dengan suatu kaum maka dia termasuk mereka.” (Hadits riwayat Abu Daud, dan At-Thabrani dalam al-Ausath, dari Hudzaifah, berderajat hasan/ baik).
Keadaan orang yang membela orang kafir (Yahudi, Nasrani, musyrikin, komunis, sekuler, nasionalis yang meremehkan Islam, kelompok sesat yang telah masyhur keluar dari Islam seperti Ahmadiyah, Baha’I, Syi’ah ghulat, Lia Eden dan pengikutnya, nabi-nabi palsu seperti Ahmad Moshaddeq, Abdurrahman –nabi palsu mengaku reinkarnasi/ perwujudan kembali Nabi Muhammad saw dari kelompok Lia Eden, gerombolan musyrikin baru dengan nama pluralisme agama yang ada di berbagai perguruan tinggi Islam dan lembaga-lembaga yang biasanya didanai kafirin dan lain-lain) ini bisa dibandingkan dengan orang Islam, yang karena bergabung dengan kepentingan kafirin, maka mereka dimasukkan ke neraka jahannam.
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(97).
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An-Nisaa’:/ 4:97).
أنَّ ناسا من المسلمين كانوا مع المشركين ، يُكَثِّرُونَ سوادَ المشركِينَ على عهد رسولِ الله صلى الله عليه وسلم : يأتي السَّهْمُ يُرْمَى به ، فيُصيبُ أَحَدَهُمْ فيقتُله،أو يُضْرَبُ فَيُقتَلُ، فأنزل اللهُ {إنَّ الذين تَوَفَّاهُم الملائكةُ ظالمِي أَنفُسِهم… } [ النساء : 97 ]. أَخرجه البخاري.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa di antara pasukan musyrikin terdapat Kaum Muslimin Makkah (yang masih lemah imannya, tidak ikut berhijrah padahal mereka mampu berhijrah ke Madinah) yang turut berperang menentang Rasulullah SAW sehingga ada yang terbunuh karena panah atau pedang pasukan Rasulullah. Maka turunlah ayat ini (QS 4:97) sebagai penjelasan hukum bagi Muslimin yang lemah imannya, yang menganiaya dirinya (mampu membela Islam tetapi tidak melakukannya). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari bersumber dari Ibnu Abbas).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa nama orang-orang yang menambah jumlah musyirkin itu antara lain Qais bin Walid bin
Mughirah, Abu Qais bin al-Faqih bin Mughirah, Walid bin ‘Uthbah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Umayyah bin Sufyan, dan Ali bin ‘Umayyah bin Khalaf. Dan selanjutnya dikemukakan bahwa peristiwanya terjadi pada peperangan Badr, di saat mereka melihat jumlah Kaum Muslimin sangat sedikit, timbullah rasa keragu-raguan pada mereka dan berkata: “Tertipu mereka (orang-orang Muslim) dengan agamanya”. Orang tersebut di atas mati terbunuh di perang Badr itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih, lihat KHQ Shaleh dkk, Asbabun Nuzul, CV Diponegoro, cet 7, 1985, hal 152).
Di sini jelas, orang yang mengaku Islam namun membela orang kafir, matinya masuk neraka jahannam. Karena sebenarnya mereka yang Islam itu mampu untuk berhijrah namun enggan berhijrah, akibatnya mereka dipaksa oleh kafirin untuk membela orang kafir, hingga matinya tergolong kafir maka masuk neraka jahannam.
Bagaimana pula orang-orang sekarang yang tidak dipaksa oleh kafirin, dan tidak di negeri kafir, sedang mereka mampu untuk bergabung dengan Muslimin untuk membela Islam, namun pilih bergabung dengan kafirin (Yahudi, Nasrani, komunis, sekuler, nasionalis yang meremehkan Islam, kelompok sesat yang telah masyhur keluar dari Islam seperti Ahmadiyah, Baha’I, Syi’ah ghulat, Lia Eden dan pengikutnya, nabi-nabi palsu seperti Ahmad Moshaddeq, Abdurrahman –nabi palsu mengaku reinkarnasi/ perwujudan kembali Nabi Muhammad saw dari kelompok Lia Eden, gerombolan musyrikin baru dengan nama pluralisme agama yang ada di berbagai perguruan tinggi Islam dan lembaga-lembaga yang biasanya didanai kafirin dan lain-lain) untuk melawan Islam?
Kalau mereka beralasan bahwa dukungannya terhadap kafirin itu hanya sikap politiknya, sikap pergaulannya, sedang agamanya tetap Islam, maka ada ayat yang bisa jadi rujukan untuk mengkaji masalah itu.
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ(65). لاَ تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ(66).
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir setelah beriman…” (QS At-Taubah/ 9: 65-66).
Orang-orang yang telah kafir akibat membela kafirin dalam melawan Islam itu, ketika mati hukumnya seperti orang murtad. Yaitu jangan dimandikan, jangan dishalati atau dikubur di pekuburan Muslimin.
Allah SWT berfirman:
وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ(84).
“Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik (keluar dari tha’at).” (QS At-Taubah/ 9:84).
Ayat-ayat dan hadits telah menjelaskan dalam masalah ini. Ancaman-ancamannya telah jelas. Bahayanya pun nyata, sangat merugikan Islam. Apabila mereka mati dan disholati maka akan mengakibatkan bahwa membela kekafiran dan menghalangi Islam pun masih dihargai oleh Islam, maka akan terjadi kecenderungan orang akan tidak takut menghujat Islam; di samping itu akan campur aduk antara yang haq dengan yang batil. Sedangkan itu merupakan larangan. Oleh karena itu bagi mereka yang telah terbukti sah benar-benar nyata membela kekafiran dan menyerang Islam serta tidak ada halangan lagi (sudah memenuhi syarat-syaratnya) secara syar’I untuk dinyatakan kekafirannya, maka bangkainya tidak perlu disholati.
Sumber:http://www.nahimunkar.com