Stop Perang Irak

Kamis, 20 Maret 2008 | 09:35 WIB

WASHINGTON, KAMIS – Rakyat AS kembali melawan pemerintahnya yang belum juga mengakhiri pendudukan di Irak. Demonstrasi digelar di kota-kota besar AS untuk memperingati lima tahun invasi AS di negara itu, Rabu (19/3) atau Kamis (20/3) waktu Indonesia.

Dalam peringatan-peringatan sebelumnya, puluhan ribu orang berbaris di seluruh kota besar AS. Sedangkan beberapa hari sebelum perang dikobarkan ratusan ribu orang berupaya mencegahnya lewat demonstrasi.

Massa yang lebih kecil, ratusan orang, terlihat berkumpul di Washington, Rabu. Hal ini mungkin disebabkan adanya peringatakan akan muncul badai di wilayah itu.

Dalam aksi di San Francisco, Washington dan Syracuse, belasan orang ditahan karena ulahnya dianggap sudah kelewatan. Sekitar 100 demonstran menduduki gerbang masuk kantor pajak, Internal Revenue Service (IRS). Beberapa orang langsung ditahan. Mereka memilih IRS sebagai sasaran karena kantor itu mengumpulkan pajak untuk membiayai perang.

Brian Bickett (29), salah satu yang ditahan.  Guru teater sekolah menengah dari New York City itu mengaku tidak pernah terlibat aksi pembangkangan sipil sebelumnya. “Kita harus menemukan sebanyak mungkin cara untuk menolak perang dan saya memutuskan mencoba yang satu ini,” katanya.

Sekitar 20 demonstran ditahan sekitar satu blok sebelum gedung DPR AS karena memblokade lalu lintas. Polisi terpaksa menyeret mereka dari tengah jalan agar lalu lintas pulih.

Sementara itu di Syracuse, 20 orang juga ditahan karena memblokade jalan dengan suasana tiruan jalanan Bagdad. Satu orang berbaring di jalan dengan pakaian kamuflase. Seorang lainnya berbaring dengan tutup kain putih bertanda merah dan di sampingnya seorang perempuan menangis. Mereka tetap saja beraksi meski diguyur hujan.

Di tempat lain, dengan suasana lebih tenang, demonstran memajang 4.000 T-shirt di Cincinnati yang melambangkan jumlah serdadu AS yang tewas di Irak. Sedangkan di Louisville Kentucky, para demonstran menjejerkan sepatu bot militer, sandal dan sepatu tenis anak-anak di tangga sebuah gedung pengadilan.

Laurie Wolberton dari Louisville yang putranya baru saja menyelesaikan dinas di Irak mengaku khawatir dengan memburuknya ekonomi AS membuat warga melupakan perang itu.

“Kita tidak lagi memperhatikan. Putra saya menguburkan temannya. Dia juga yang memberikan sambutan kematian. Dia mengalami apa yang seharusnya tidak dialami, padahal di sini mereka dilupakan. Kita di sini terus saja berbelanja,” kata Wolberton.

Perang Irak semakin tidak populer di kalangan rakyat AS, sementara Presiden AS George W Bush terus mempertahankan pasukannya di sana. Sampai kemarin, Bush masih menganggap perang itu berguna bagi AS dan negera yang diduduki.(AP)

Sumber: www.kompas.com

Tinggalkan Balasan