Program Insentif & Disinsentif dari PLN Bukan Solusi

Sebentar lagi PLN akan melaksanakan program insentif (pemberian potongan harga) dan disinsentif (penambahan biaya pembayaran). Alasan pemerintah dalam hal ini PLN, untuk mengurangi beban daya listrik yang berlebihan dan untuk penghematan bahan bakar yang semakin mahal dan langka.

Program itu sebenarnya bukanlah solusi yang tepat, mengapa?

Kebutuhan masyarakat terhadap energi saat ini sudah tidak bisa dilarang atau dilarang, ini seiring dengan perkembangan kemajuan Teknologi Informasi dan Elektronika. Semuanya butuh energi yang besar. Tentu berbeda dengan keadaan 5 atau 10 tahun lalu. orang masih banyak yang menggunakan bahan bakar kayu misalnya.

Solusi yang tepat adalah pembangunan PLTN (pembangkit listrik tenaga Nuklir).
Coba fikirkan !!!

Jepang saja yang menderita korban Bom Nuklir, kita ingat tanggal 7 dan 9 agustus kota Hiroshima dan Nagasaki hancur oleh bom Nuklir AS.

Tetapi mengapa Jepang sekarang menggunakan tenaga Nuklir / PLTN ?

Karena Jepang lebih memilih pertimbangan jangka panjang, hemat biaya, dan energi yang dihasilkan oleh PLTN sangat besar.

Mari kita bandingkan :

1 gram Uranium (bahan bakar Nuklir) setara dengan 1.000 ton batubara. Setara juga dengan 160 buah mobil tangki minyak yang masing-masing tangki berisi 6.500 liter.

Luar Biasa Kan ???

Masalah Bahaya Nuklir ???

* Korban akibat kebocoran Reaktor Nuklir, masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah korban kecelakan kendaraan bermotor setiap hari di Indonesia.
* Jadi sangat tidak beralasan kalau bahaya PLTN dibesar-besarkan seperti oleh WALHI atau Green Peace. Bahkan ada dedengkot Green Peace yang sadar dan berbalik mengkampanyekan penggunaan PLTN.

JADI SUDAH SAATNYA INDONESIA MEMBANGUN PLTN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN ENERGI YANG BESAR DAN HEMAT BIAYA. YA TENTU SAJA JANGAN MENGABAIKAN NASIB RAKYAT KECIL.

Tinggalkan Balasan