Membaca novel ayat-ayat cinta, seakan kita terbawa ke Mesir yang sesungguhnya. Di samping juga bagaimana kita mengenal alur percintaan muda-mudi dalam Islam dari pengalaman pengarangnya yang alumni S2 Al Azhar yang sama dengan pelaku utama dalam novel si Fahri.
Setidaknya ada beberapa inspirasi dan hikmah yang bisa kita petik setelah membaca novelnya, dan mungkin itu juga yang diharapkan oleh pengarangnya Kang Habiburrahman “Abik” El Shirazy.
Diantaranya:
* Hidup ini penuh perjuangan dalam mencapai cita-cita
* Senantiasa kita tetap menjaga adab Islami dalam pergaulan muda-mudi, tidak mengamalkan pergaulan bebas.
* Menjadi Santri dan Muslim tidak berarti kita harus hidup kolot dan tidak mau menerima perubahan, Dunia kita raih akhirat kita dapat
* Cinta adalah anugerah dari Allah SWT, boleh kita nyatakan secara lahir jika tujuan kita serius ke jenjang yang halal, jadi tidak perlu malu atau disembunyikan.
* Fitnah selalu membawa kesusahan dan kemelaratan
* Poligami bukanlah hal yang haram atau tidak boleh sama sekali, diperbolehkan asalkan dengan syarat-syarat seperti dalam Al Qur’an (bisa berbuat adil)
* Petunjuk atau hidayah itu datangnya dari Allah SWT
* Dalam kehidupan sehari-hari seharusnya kita tetap hidup secara Islami
DIarsipkan di bawah: Artikel Terbaru | Ditandai: al azhar cairo, Artikel Terbaru, cinta, habiburrahman, hidayah, islami, muslim, novel ayat-ayat cinta, poligami, santri



Waktu aku baca novel Ayat-ayat cinta, aku betul-betul heran koq novel ini bisa jadi best seller. Pada hal menurut aku novel ini meskipun gak jelek tapi untuk di bilang the great work.. nggak juga (Sorry kang abik). Kekuatan dari novel ini hanya settingnya aja. Mesir yang eksotik dengan kehidupan mahasiswa al-azharnya.
Sebenarnya alur ceritanya oke juga tapi, menurutku kelemahan utama novel ini justru pada karakter utamanya Fahri yang seperti Superman. Penggunaan sudut pandang orang pertama (aku) semakin membuatku risih membacanya. menurutku kurang pantas jika untuk membangun citranya yang Waaah itu, Fahri harus menuturkannya sendiri…. (muji-muji diri sendiri hehehehe)
Makanya waktu diajak teman nonton filmnya aku kurang semangat. Tapi, setelah nonton, waaaah greaaaat… Aku benar-benar menyukainya. Pada hal biasanya karya tulis seperti novel ketika dibuat dalam bentuk film sering membuatku kecewa. Karena biasanya aku mengharapkan lebih dari apa yang digambarkan sutradara. Tapi untuk tokoh-tokoh dalam AAC semuanya baguuss (pas), kecuali mungkin noura dan nurul ditukar aja kali ya mas…hehehe
TWO THUMBS UP TUK MAS HANUNG, yang bikin sosok Fahri jadi lebih REALISTIS. Kalau menurut aku bagusan filmnya dripada baca novelnya.
Fedi, Rianti dan Carissa mainnya baguuus.
Aku Cuma bisa bilang, terima kasih sudah bikin karya yang bagus untuk film Indonesia
Maju terus mas hanung….
Bravo… AAC bravo… Film Indonesia