Guru Gaptek, No Way!

Judul tulisan ini saya ambil dari judul atau tema acara Kick Andy yang disiarkan ulang hari ini. Acara ini termasuk acara favorit saya di Metro TV. Karena acara ini banyak memberikan inspirasi dan motivasi dalam kehidupan yang sering “di luar nalar manusia” atau tidak lazim menurut orang awam (beyond of mind).

Di tengah kemajuan dunia teknologi dan komunikasi saat ini, memang tidak seharusnya seorang guru gagap teknologi (Gaptek). Namun dari tiga juta guru yang tersebar di Indonesia saat ini, mungkin hanya 20% saja yang benar-benar menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi. Padahal sejatinya juga sudah ada Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Guru yang jelas-jelas mengamanahkan seorang guru agar mampu menggunakan Teknologi Informasi (TI) dalam proses pembelajarannya.

Ya, sore tadi saya saya terpukau menonton acara Kick Andy yang menampilkan profile 4 orang guru hebat dan berprestasi. Mereka ini dipilih karena sukses membuat karya program komputer dan memenangi lomba pembuatan media pembelajaran. Keempatnya antara lain:

  1. Joko Triyono misalnya. Guru SMA Negeri 1 Prembun, Kebumen, Jawa Tengah, menciptakan software atau piranti lunak berupa musik gamelan

 

  1. Heru Suseno. Guru SMA Negeri II Madiun, Jawa Timur, menciptakan animasi virtual tentang ilmu fisika.

 

  1. Nura Uma Anissa. Guru Taman Kanak-Kanak Islam Al Azhar 22, menciptakan alat peraga berupa Animasi Mari Mengenal Indonesia.

 

  1. Estu Pitarto. Guru SD Islam Al Azhar 14 Semarang, Jawa Tengah, menciptakan software animasi yang mengangkat kebudayaan Jawa yang diberi judul ”Ayo, Sinau Aksara Jawa” atau Ayo, Belajar Huruf Jawa.

Saya sebenarnya lupa kalau ada siaran ulangnya minggu sore tadi. Saya terkejut, karena saat saya aktifkan channel Metro TV, yang tampil langsung adalah wajah seorang guru muda berpenampilan rapi bernama Heru Suseno. Nama ini tentu saja tidak asing lagi buat saya, karena beliau ini adalah adik kelas saya saat kuliah dulu di Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang. Saya mengenalnya sebagai adik kelas yang pintar, rajin, dan disiplin. Tetapi sejak kami sama-sama lulus 12 tahun lalu, praktis saya tidak pernah bertemu lagi. Kecuali, saya sering berkunjung ke blog pribadinya di http://herususeno.wordpress.com

Sosok Heru Suseno ini sering mendapat medali emas pada ajang Lomba Pembuatan Media Pembelajaran yang diselenggarakan oleh Depdiknas. Bahkan software berbasis Flash yang dibuatnya pun sudah beredar ke sekolah-sekolah SMA di seluruh Indonesia. Kita juga bisa mendownload secara gratis program yang dibuatnya melalui blog pribadinya itu.

13369144141523628819

Guru Gaptek, No Way! (Sumber: www.kickandy.com)

Guru-guru yang ditampilkan Kick Andy itu termasuk sebagian kecil guru di Indonesia yang mengerti Teknologi Komputer dan mengaplikasikan program yang dibuat dan dilombakan itu ke dalam kelas saat pembelajaran. Sudah saatnya kemajuan teknologi ini bisa dimaksimalkan pemanfaatannya oleh guru-guru di Indonesia. Termasuk saya tentunya, karena mungkin termasuk golongan guru yang gaptek.

Selain keempat guru yang “gak gaptek” yang ditayangkan di acara kick andy itu, sebenarnya ada beberapa orang guru yang saya kenal juga berprestasi. Tetapi sayangnya kok tidak turut diundang oleh Produser Kick Andy. Mereka ini pun tidak kalah hebatnya, karena mereka sudah berprestasi membuat program animasi pembelajaran, membuat PTK, menulis buku, dan bahkan sudah menjadi pembicara atau nara sumber dalam berbagai even berkaitan dengan peningkatan SDM guru. Mereka ini diantaranya: Herfen Suryati dari SMA YPK Bontang-kaltim, Johan Wahyudi dari SMP Sragen, Wijaya Kusumah dari SMP Labschool Jakarta. Beliau-beliau ini sangat aktif menulis di Kompasiana, memberikan pelatihan menulis, dan menjadi pembicara di berbagai seminar.

Indonesia sangat membutuhkan “guru-guru model” seperti mereka-mereka itu. Mereka pun telah memposisikan diri mereka sebagai truly teacher, guru yang sebenar-benarnya guru. Karena mereka telah bisa mengajar, mendidik, menulis, dan meneliti. Sementara di satu sisi, masih sangat banyak guru yang sekalipun sudah menyandang predikat “Guru Profesional” masih saja gagap teknologi. Tentu ini menjadi PR berat pak Mendikbud, Muhammad Nuh. Karena di tangan cerdas para guru Profesional inilah kemajuan Indonesia bisa diraih. Negara yang maju adalah negara yang memprioritaskan pendidikan dan menghargai para gurunya. Lahirnya Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, sangat diharapkan menjadi payung hukum yang menaungi dan menjadi garansi terhadap masa depan guru di Indonesia.

Harapan dari penulis, semoga penulis sendiri dan guru-guru lainnya di Indonesia bisa mengikuti jejak guru-guru hebat dan berprestasi di atas. Menjadi guru yang “gak gaptek”. Guru Gaptek, No Way!

Salam Blogger Lombok

Mr. Q
www.subkioke.wordpress.com

Bule Ganteng Masuk Sekolah

1336487589426997719

Mark-westlife (ilustrasi bule); (www.fanpop.com)

Ketika para guru sedang asyik ngobrol di ruang guru saat jam istirahat kedua di sekolah kami, tiba-tiba saja muncul seorang Bule Ganteng dan masih muda muncul masuk ke Ruang Guru. Tapi maaf saya tidak sempat mengambil gambarnya. Ternyata abang Bule ini dibawa oleh seorang guru bahasa Inggris kami yang masih muda bernama Lalu Hery Surya, S.Pd. Cerita rekan guru ini, si Bule ini sudah menginap 2 malam di rumahnya. Wow.. kereen, ada bule mau nginep di rumah guru kami.

Naluri komunikasi saya muncul seketika. Walaupun saya tidak bisa bahasa Inggris sama sekali (maklum bukan guru bahasa Inggris dan belum pernah ikut kursus bahasa Inggris), hanya bermodalkan cas cis cus. Malu juga ya jadi guru kok gak bisa bahasa Inggris. Saya teringat dulu juga pernah kenalan dengan seorang Turis asal Prancis bernama Mr. Daniel. Kami berkenalan di atas kapal Citra Nusantara di Selat Lombok dalam perjalanan dari Pelabuhan Lembar menuju Padang Bai, Bali. Waktu itu saya mau berangkat kuliah ke Jawa.

Berikut sekilas wawancara saya dengannya yang asal-asalan nekad.

Saya (S): “Sit down please, Mr!”. lalu si Bule duduk di kursi dekat meja saya.

Bule (B): “thank you”

S : “My name is Mr. Subki and you?”

B: “my name is Alban”

S: “where are you from?”

B: “Franch”

S: “how long do you live in Lombok”

B: “twenty three days”.

dst…malu kalau dilanjutin, bahasa inggrisnya sdh mulai kaco. he he he.


Untunglah ada 2 guru Bahasa Inggris yang lain datang kemudian mengajak si Bule ngobrol panjang lebar.

Setelah cukup lama ngobrol, tiba saatnya pak guru Hery membawa si Bule masuk ke kelas untuk melatih siswa kelas XI IPA berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dan entah bagaimana suasana di kelas, sayangnya saya tidak bisa mengikutinya ke dalam kelas, karena ada urusan lain.

Dari kejadian singkat di atas, saya lantas berfikir, coba seandainya di sekolah kami, didatangkan seorang Bule sebagai Native Speaker, maka mau tidak mau kami semua guru pasti mau belajar Bahasa Inggris. Paling tidak sekedar basic conversation (percakapan dasar dulu). Nanti kemudian bisa dilanjutkan bagaimana cara membuka dan menutup pelajaran dalam Bahasa Inggris. Dan akan lebih super lagi, kalau bisa dilanjutkan mengajar menggunakan pengantar Bahasa Inggris. Mungkin seperti itulah yang diharapkan di sekolah-sekolah yang berlabel RSBI. Namun sayang sekali, ketika suatu waktu saya pernah masuk di salah satu SMP RSBI di kota kami, kemampuan bahasa Inggris guru-gurunya masih relatif rendah (kecuali guru bahasa inggris mungkin yang tidak).

Dari obrolan singkat dengan Bule itu saja kita sudah bisa menangkap inti dari pembicaraan. Apalagi kita berinteraksi setiap bulan atau setiap minggu, apalagi setiap hari. Mungkin hanya butuh waktu 3 bulan, maka para guru sudah bisa melakukan percakapan sederhana.

Jadi sebenarnya, Bahasa Inggris tidak sesulit seperti yang dibayangkan. Kuncinya dalam belajar bahasa adalah menguasai vocabulary (kosa kata) dan sering berlatih. Tidak perlu teori yang bertele-tele kalau yang diharapkan oleh pemerintah dalam kurikulum adalah speaking atau listening.

Selamat Jalan Muridku Sayang, Wujudkan Mimpi-Mimpimu

13363061342099762612

Pisah Kenang SMAN 1 Labuhan Haji

Sabtu, 5 Mei 2012. Hari ini adalah hari pertama yang sangat berbahagia buat murid-muridku. Hari ini tepatnya sekolah kami SMAN 1 Labuhan Haji, Lombok Timur-NTB, mengadakan acara perpisahan atau PISAH KENANG untuk kelas XII yang akan lulus tahun ini. Sekalipun murid-murid kelas XII masih harus menunggu pengumuman Ujian Nasional (UN) tanggal 26 Mei nanti, sebagai hari bahagia kedua mereka, jika nanti mereka dinyatakan LULUS UN. Namun, acara Pisah Kenang ini setidaknya bisa meredam gejolak penasaran yang ada di dada mereka. Mereka bisa menghibur diri dan memuaskan diri mereka dengan berfoto bersama-sama guru mereka tercinta. Guru mereka yang telah menumpahkan ilmunya kepada setiap kepala-kepala polos yang laksana Hardisk yang baru terisi sebagian saja. Pisah Kenang ini juga sebagai tanda pelepasan siswa oleh sekolah -yang telah mendidik dan mengajar mereka selama 3 tahun- kepada Pihak Orang Tua/Wali Murid yang diwakili oleh Pengurus Komite Sekolah.

13363062201869355147

Kata Orang bijak, “ada pertemuan ada pula perpisahan“. Begitulah dengan para siswaku tercinta, mereka mulai diterima di sekolah kami dalam keadaan penuh harapan. Mulai dari proses Penerimaan Siswa Baru (PSB) 3 tahun lalu, kemudian mereka dibina, diajarkan, dididik, dibimbing, diarahkan, diatur, hingga mungkin disayangi oleh guru mereka, laksana seorang ayah dan ibu yang menyayangi anak tercinta mereka. Hingga hari ini, mereka harus berpisah dengan kami para gurunya. Mudah-mudahan saja ilmu yang diberikan selama 3 tahun bisa menjadi anak tangga yang kokoh untuk menaiki tangga berikutnya. Untuk selanjutnya para murid ini harus pergi lagi menuntut ilmu untuk menggapai cita-cita dan mimpi-mimpi mereka.

Saya pun jadi teringat lagu Laskar Pelangi dari Nidji. Semoga lagu yang pernah populer sebagai sound track Film Laskar Pelangi ini bisa menjadi peluru motivasi kepada seluruh siswa saya.

Nidji berpesan dalam lagunya:

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

….
Bebaskan mimpimu di angkasa
Warnai bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada Yang Kuasa
Cinta kita di dunia selamanya

Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita

Laskar pelangi takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumi

Sebagai guru yang tugasnya mentransfer ilmu dan mendidik dengan hati, tentu saja banyak suka dan duka bersama murid-muridnya. Sebagai murid, tentu saja mereka kadang-kadang membuat senang dan bangga guru mereka. Tetapi tidak sedikit juga para murid yang kadang-kadang membuat jengkel dan marah gurunya. Tetapi guru tetaplah guru. Dia harus berlapang dada dan senang memberi maaf kepada kesalahan-kesalahan murid-muridnya. Toh juga para murid telah dibuatkan trafffic light berupa rambu-rambu dan Tata Tertib Sekolah di sekolah kami, agar mereka bisa dan terbiasa hidup disiplin. Karena itulah fungsi ganda dari sekolah, yaitu: sebagai tempat untuk Belajar-Mengajar dan Mendidik. Jika ada murid yang melanggar rambu-rambu itu, maka tugas sekolah lah yang harus terus membina dan mendidik mereka hingga mereka benar-benar seperti anak yang disayang ibu dan bapaknya.

13364505821161337307

Marahnya guru kepada murid bukanlah seperti marahnya Polisi kepada Penjahat. Tetapi marahnya guru adalah marah sayang. Itu ibarat marahnya Ayah dan Ibu kepada Anaknya. Begitu pula cinta-nya guru kepada muridnya, bukanlah cinta Romeo kepada Yuliet, atau seperti perangko di amplop, kendati banyak guru yang akhirnya berjodoh dengan muridnya. Memang seperti katanya dalang “cinta itu datangnya dari mata lalu turun ke hati“.  Tak salah pula lah, jika guru (yang masih lajang) mau mempersunting muridnya sebagai istri. Toh itu juga sesuatu yang sah dan halal melalui jalur pernikahan.

Acara dimulai pukul 09.30 wita, karena harus menunggu para tamu undangan berdatangan. Mulai dari Camat Labuhan Haji, Kapolsek Labuhan Haji, UPTD Dinas, Kepala Desa, dan beberapa perwakilan pejabat/pengawas dari Dinas Dikpora Lombok Timur, dan lain-lain.

Beberapa rangkaian acara berhasil terlaksana dengan lancar hingga usai pukul 12.00 wita. Mulai dari pembukaan, sambutan-sambutan, dan acara hiburan. Satu pesan menarik yang disampaikan oleh Ketua Osisnya (Laila Ramdani) di akhir sambutannya kepada kakak kelas mereka kelas XII yang akan lulus adalah “Raihlah Baju Sarjana Sebelum Meraih Baju Pengantin”. Pesan ini saya anggap memiliki makna yang sangat mendalam dan tepat sekali, mengingat bahwa tingkat Drop Out (DO) yang cukup besar dan persentase siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi relatif kecil. Memang faktor ekonomi dan kondisi keluargalah yang menjadi faktor dominan di daerah kami di Kecamatan Labuhan Haji Lombok Timur.

Suguhan acara yang tidak kalah bagusnya adalah pementasan Drama yang diperankan oleh anak-anak Kelas XI IPA. Di bawah bimbingan guru seni mereka, Sabahandi, S.Pd dan Heny Kurniawati, S.Pd, mereka berhasil membawakan sebuah drama yang sangat menyentuh perasaan para siswa kelas XII dan para tamu undangan. Tema dramanya adalah silang pendapat antara seorang ibu dari Suku Sasak Lombok yang tidak mengharapkan anak mereka untuk melanjutkan sekolah dengan sang anak yang sangat ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi di akhir kisah anaknya berhasil menyelesaikan studinya di Perguruan Tinggi dan sukses membuat keluarga menjadi bahagia yang akhirnya mengubah pandangan awal sang Ibu.

13364507871314095444

Untuk diketahui para pembaca bahwa di adat sasak yang tradisional (suku utama di Pulau Lombok), masih banyak orang tua mereka yang tidak mau anaknya melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka berpendapat bahwa sekolah hanya menghabiskan biaya saja. Lebih baik anak-anak mereka membantu orang tuanya bekerja di sawah, ladang, atau peternakan. Bahkan tidak sedikit juga selepas sekolah anak-anak mereka harus dikawinkan dini dengan saudara dekat mereka, kendatipun sebenarnya mereka belum matang untuk membina keluarga.1336306343239210111

Selamat Jalan Murid-muridku tercinta. Di pundakmu harapan keluarga dan bangsamu berada. Janganlah kau patah semangat melihat jurang terjal menganga. Di seberang sana, kan kau temukan emas dan intan berlian nan mempesona. Kau ibarat burung camar yang pergi pagi dan pulang petang membawa berita gembira kepada anak-anaknya di sarang. Sang burung membawa bekal makanan yang cukup untuk esok hari.

Wahai murid-muridku sayang, gurumu ibarat obor penerang.
Cahaya yang diberikan oleh guru-gurumu harus kau bawa ke tempat kegelapan agar bisa menjadi penerang di tengah kegelapan itu.
Habis Gelap Terbitlah Terang, demikian pesan ibunda pahlawan RA Kartini.
Dari Kegelapan Menuju Terang Benderang (minaz zulumati ilannuur), demikian agama kita menjelaskan.

Wujudkan mimpi-mimpi indahmu.
Kelak kau kan tahu apa makna kehidupan.
Tetapi berjalanlah di rel kehidupan yang benar.
Patuhilah segala rambu dan aturan.
Karena itu membawa kepada keselamatan.

Pendidikan Indonesia masih belum Mendidik, Salah Siapa?

13358834912033579025
Tawuran Pelajar (Sumber: www.suaramerdeka.com)

Setiap tanggal 2 Mei kita selalu memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tanggal itu diambil dari tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantoro, tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Peringatan itu tuntuk mengenang jasa Beliau yang dianggap sangat berjasa sebagai pelopor pendidikan di Indonesia.

Di Indonesia, regulasi yang mengatur masalah pendidikan adalah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS) Nomor 20 Tahun 2003. UU ini terdiri dari 22 Bab dan 77 Pasal. UU ini lah yang mengatur seluk beluk pelaksanaan pendidikan di Indonesia.

Bab 2 Pasal 7 mengatur tentang Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan. Disebutkan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Jika mencermati pesan yang termaktub dalam fungsi pendidikan di atas, rasanya tidak ada yang mau membantahnya. Namun demikian, seakan sudah kehilangan rohnya, fungsi di atas terlihat kontras sekali dengan pelaksanaan pendidikan yang saat ini sedang kita amati di Indonesia.

Kita ambil sebagai contoh adalah semakin hilangnya nilai-nilai akhlak mulia dan kejujuran di lembaga-lembaga pendidikan. Banyaknya tawuran para pelajar menghiasi berita utama di berbagai media cetak, televisi dan digital. Tawuran banyak terjadi diantara pelajar di sekolah-sekolah mereka. Para mahasiswa pun banyak tawuran di dalam kampus mereka, hingga menimbulkan korban luka, tewas, dan kerusakan fasilitas pendidikan. Tentu semua ini menjadi tanda tanya besar kepada seluruh elemen penting di negara ini. Menumpahkan semua kesalahan kepada para guru tidaklah tepat. Karena kehidupan para siswa dan mahasiswa tentu saja jauh lebih banyak di luar sekolah dan kampus mereka. Ya, tentu saja banyak faktor yang mempengaruhinya baik secara individual maupun komunal. Atau bisa saja dari faktor internal maupun eksternal di sekeliling siswa.

Sebagai contoh nyata yang kedua adalah seputar pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Pemerintah hingga saat ini masih tetap melaksanakan Ujian Nasional dengan argumen bahwa hasil UN digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam: (a) pemetaan mutu program dan atau satuan pendidikan; (b) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (c) penentu kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan; dan (d) dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan”.

13358837791110232585

Aksi mencontek massal terjadi dalam ujian nasional (ilustrasi www.republika.co.id)

Yang menjadi inti persoalan adalah pada tingkat kejujuran dari pelaksanaan Ujian Nasional ini. Karena ketakutan di pihak sekolah, pihak Dinas Pendidikan, atau Pihak Pejabat daerah, menyebabkan Ujian Nasional ini seperti monster saja. Kerap terjadi kebocoran soal, beredarnya kunci jawaban, mencontek massal, atau tindakan-tindakan tidak terpuji lainnya. Ini menujukkan mungkin ada “sesuatu” yang salah pada landasan dasar pelaksanaannya, bukan pada pelaksanaan UN itu sendiri. Pemerintah pun sepertinya hanya mengutamakan aspek Kognitif dalam penilaian dari sekian banyak aspek penilaian dalam kurikulum. Aspek Psikomotorik dan Afektif sepertinya terabaikan.

Perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh banyak sekolah dan daerah itu sangat bertolak belakang dengan amanah sebagaimana tertulis pada fungsi pendidikan di atas. Alih-alih mau menanamkan akhlak mulia justru kecurangan UN semakin merajalela.

Memang pemerintah selalu berusaha memperbaiki sistem pelaksanaan UN, seperti tahun ini dengan membuat 5 jenis variasi soal. Tetapi toh banyak beredar soal sebanyak 5 variasi soal juga. Pemerintah juga sedang giatnya menggalakkan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (PBKB). Maka lahirlah integrasi pendidikan karakter (Pendikar) dalam silabus dan RPP para guru.

Namun demikian, apakah usaha-usaha seperti itu akan berhasil? Tentu saja masih harus diuji di lapangan.

Pendidikan sejatinya bisa melahirkan manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Tetapi mengapa mata pelajaran agama hanya diajarkan 2 jam pelajaran di sekolah?. Apakah pemerintah sudah menyerahkan 100% pembinaan siswa kepada keluarga mereka? Padahal orang tua mereka tidak sedikit yang bekerja dari pagi hingga sore hari (5 hari kerja bagi PNS di beberapa daerah). Atau juga banyak orang tua mereka berada di Luar Negeri. Sehingga praktis anak-anak ini hanya diasuh oleh pembantu di rumah. Atau mereka lebih akrab berteman dengan gadget, notebook dan PC Tablet mereka dan betah chatting dengan temannya via facebook atau twitter? atau justru mereka ikut kompoi dengan Geng Motor mereka. Tidak sedikit pula diantara para pelajar dan mahasiwa yang bergaul bebas dan kumpul kebo dengan pacar mereka di tempat-tempat hiburan atau di rumah mereka yang sepi ditinggal orang tua mereka.

Itulah gambaran Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. Secara umum, pendidikan di Indonesia masih belum mendidik. Pendidikan juga masih belum banyak melahirkan manusia Indonesia yang cerdas, beriman, dan berakhlak mulia.

 

Salam Edukasi

 

Mr. Q

Hanung, Kau Keterlaluan: Pesantren dan Kiyai Begitu Kau Burukkan

Wawancara dengan tokoh sastrawan Taufik Ismail.

Tampaknya bangsa ini tidak kapok-kapok dengan sepak terjang kaum Komunis yang telah membunuh 100 juta manusia di 76 negara seluruh dunia selama 74 tahun kekuasaannya (1917-1991), atau 1,350 juta orang pertahun atau 3.702 orang perhari, sebagaimana disebutkan Taufiq Ismail dalam bukunya “Katastrofi Mendunia, Marxisma, Leninisma, Stalinisma, Maoisma dan Narkoba”.

Sementara di Indonesia kaum Komunis telah dua kali menggerakkan kudeta (1948 dan 1965) yang akhirnya gagal total.

Meski tindakannya selalu brutal dan menghalalkan segala cara, ternyata masih ada manusia Indonesia yang menjadi pengagum Komunisme bahkan berusaha memperjuangkannya  melalui film-film yang selama ini dibuatnya, seperti yang dilakukan sutradara muda, Hanung Bramantyo, suami aktris Zaskia Adya Mecca, yang merupakan istri keduanya setelah ribut di Pengadilan Agama dengan istri pertama.  Adapun film garapan Hanung yang sangat kental bau Komunisnya sekaligus Sepilis (Sekularis, Pluralis dan Liberalis) serta menghina Islam adalah Perempuan Berkalung Sorban (PBS).  Saking kagumnya dengan Komunis, sampai-sampai ringtone hand phone Hanung bernada lagu khas Gerwani PKI, Genjer-Genjer. Hanung juga pernah membuat film yang sangat kental bau komunisnya, Lentera Merah, kalau diplesetkan menjadi Tentara Merah.

Film yang dibintangi aktris Revalina S Temat (Annisa) tersebut diambil dari Novel PBS karya Abidah El Khaleqy. Novel PBS sebelumnya mendapat penghargaan dari The Ford Foundation, sebuah NGO  yang memperjuangkan faham Sepilis dan dikendalikan kaum Zionis Yahudi AS. Film tersebut mengisahkan kebobrokan pesantren dan kiyainya. Pesantren dan kiyainya dicitrakan kotor, sumber penyakit, sangat bengis, mudah main pukul, mengekang perempuan, mengekang hak berpendapat, menempatkan perempuan pada martabat yang rendah, suka main bakar buku-buku komunisme, suka main hukuman rajam secara serampangan dan sebagainya.

Dikisahkan, seorang santriwati yang juga putri kiyai pesantren, Annisa, dan tinggal di kompleks pesantren, frustasi karena ulah suaminya yang juga anak seorang kiyai yang sering melakukan kekerasan, akhirnya memutuskan untuk kembali dalam pelukan mantan pacarnya, Khudori, seorang alumnus sebuah perguruan tinggi di Kairo, Mesir. Bahkan Annisa yang sudah kebelet, mengajak Khudori untuk melakukan adegan ranjang di sebuah kandang kuda di pesantren tersebut, padahal kandang itu penuh dengan kotoran kuda. “Zinahi aku…Zinahi aku…!”, desak Annisa kepada Khudori sambil melepaskan jilbab dan pakaiannya satu persatu.

Ketika kedua insan lain jenis dan bukan suami istri tersebut sedang melakukan perzinahan, akhirnya datang rombongan santri dan suami Annisa mengerebeknya. Lalu keduanya mendapat hukuman rajam dengan dilempari batu oleh para santri. Lemparan batu baru berhenti setelah ibu Annisa berteriak sambil mengatakan, “ yang boleh melempar batu hanya orang yang tidak pernah melakukan dosa!”, padahal tidak ada orang yang tidak pernah melakukan dosa. Kata-kata dari ibu Annisa ini jelas mengutip dari cerita Kristen dari Kitab Injil, dimana dikisahkan seorang pelacur, Magdalena, dihukum rajam dengan dilempari batu. Kemudian datang Nabi Isa (Yesus) untuk menyelamatkannya dengan mengatakan, “yang boleh merajam hanya yang tidak punya dosa”. Jadi selain berbau Sepilis dan Komunis, film PBS juga beraroma Kristiani dan berusaha menghancurkan Islam lewat pintu budaya melalui film.

Jelas dengan menampilkan hukuman rajam yang sebenarnya tidak ada dalam novel aslinya, Karl “Hanung” Mark ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk membenci syariat Islam dan pesantren, sebab sejak dulu pesantren merupakan basis terkemuka dalam melawan gerakan PKI di Indonesia. Padahal itu hanya utopia dirinya sendiri, sebab selama ini belum pernah ada satupun pesantren di Indonesia yang melakukan hukuman rajam kepada santrinya yang melakukan perzinahan. Seolah-olah pesantren merupakan negara dalam negara dengan menegakkan hukumnya sendiri. Jelas ini merupakan distorsi terhadap hukum Islam dan upaya mengadu domba umat Islam dengan pemerintah. Dengan membuat film PBS, sesungguhnya Karl “Hanung” Mark telah melakukan anarkhisme psikis, yakni melakukan penyerangan secara psikis terhadap umat Islam dan pesantren sebagai salah satu simbol Islam di Indonesia. Karena dendam terhadap pesantren yang telah berjasa menghancurkan PKI, maka Hanung menyalurkan perlawanannya lewat film PBS. Hanung dengan sengaja telah menebar virus ganas Sepilis dalam film, tujuannya untuk menimbulkan citra buruk terhadap Islam dan umatnya sambil menebalkan kantong koceknya.

Sebagaimana dalam film Lentera Merah, dalam film PBS Karl “Hanung” Mark all-out mendukung Komunisme alias PKI isme. Terbukti dalam film PBS ada adegan pembakaran buku-buku karya Karl Mark dan sastrawan kiri Pramoedya Ananta Toer seperti Bumi Manusia, oleh para santri di lingkungan pesantren. Padahal dalam novel aslinya, jalan cerita tersebut tidak ada sama sekali. Bahkan buku-buku karangan Pramoedya seperti Bumi Manusia dan Anak Segala Bangsa sepertinya dijadikan bacaan wajib bagi Annisa dan para santri lainnya. Hal ini menunjukkan Hanung selain pengagum Karl Mark juga pengagum Pramoedya. Padahal banyak sastrawan sekaliber Pramoedya dan karya-karyanya malah lebih bermutu seperti Buya Hamka. Mengapa Hanung tidak menjadikan buku-buku Buya Hamba sebagai bacaan wajib bagi Annisa dan para santri lainnya, justru buku sastrawan yang pernah menghuni penjara di Pulau Buru itu dijadikan bacaan wajib.

Dengan demikian, sudah sangat jelas dalam film PBS terdapat motif ideologi Komunis yang dimaksudkan untuk memperjuangkan kembali tegaknya Komunisme di Indonesia meski dalam bentuk lain. Hanung mafhum betul bahwa satu-satunya jalan untuk mengembalikan ajaran Komunisme di Indonesia adalah mendiskreditkan ajaran Islam dan umatnya, dimana sasaran pertamanya adalah pondok pesantren yang selama ini menjadi basis kaum Nahdhiyyin dengan memojokkan para kiyai NU.
Adapun sasaran berikutnya adalah mendiskreditkan para pemimpin Islam di Muhammadiyah. Sebab kedua Ormas Islam ini mempunyai pengikut terbesar di Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika Hanung akan meluncurkan film KH Ahmad Dahlan “Sang Pencerah” tepat pada pelaksaan Muktamar Muhammadiyah ke 46 di Jogjakarta 2-8 Juli ini. Namun anehnya justru para pemimpin Muhammadiyah tidak curiga sama sekali akan sepak terjang Hanung selama ini yang selalu mendiskreditkan Islam dan para pemimpin Islam seperti dalam film PBS. Sekarang sudah terbukti, pemeran utama sebagai KH Ahmad Dahlan dalam film “Sang Pencerah” adalah Lukman Sardi, putra seorang komponis muslim dan  pemain biola kawakan Idris Sardi namun sekarang telah murtad dari Islam dan menjadi Kristen. Bayangkan, seorang ulama besar pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan kok diperankan oleh seorang murtad, jelas ini suatu penghinaan terang-terangan terhadap Islam dan Muhammadiyah itu sendiri. Apa Ketua Umum dan 12 Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang terpilih dalam Muktamar nanti tidak malu ketika melihat pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dilecehkan dan direndahkan pribadi dan martabatnya oleh Karl “Hanung” Mark ?

Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan sastrawan, budayawan dan penyair kawakan yang telah melahirkan banyak karya lagu Islami dari Bimbo serta putra seorang ulama besar dari  Pekalongan KH Ghofar Ismail, Taufiq Ismail, seputar film Perempuan Berkalung Sorban (PBS).

Pak Taufiq, anda sudah menonton film Perempuan Berkalung Sorban ?

Saya sudah nonton PBS.

Bagaimana kesan Pak Taufiq ?

Belum pernah selama saya ini menonton film, berapa puluh tahun lamanya, berapa ratus judul banyaknya, kalau dihitung-hitung sejak masa kanak-kanak dulu, berapa ya, sejak 63, 64 tahun lebih yang silam, belum pernah saya merasa dihina dan dilecehkan seperti sesudah menonton film Hanung ini.

Lho, kok sampai begitu, ya Pak ? Dihina ?

Ya ! Di dalam film itu, semua pesantren dan semua Kiyai jelek. Situasi pesantren kumuh, Kiyai-kiyai dengan keluarga digambarkan buruk. Kelakuan tak terpuji. Terasa fikiran utama yang mendasari pembuat film ini adalah spirit mencari cacat, membuka noda, memberi tahu penonton, ini lho yang reyot-reyot, yang sakit-sakit, yang pincang-pincang dari ummat Islam, tontonlah. Begitu.

Apakah ini film pertama yang Pak Taufiq tonton, yang terkesan menghina Islam ?

Tentu saja bukan yang pertama. Banyak film yang melecehkan ummat Islam, langsung tidak langsung, kentara dan tidak kentara. Tapi film-film itu dibuat di negeri lain, oleh orang-orang bukan Islam, dan memang dengan niat culas. Nah, PBS ini dibuat di dalam negeri, oleh sutradara bangsa sendiri. Ternyata niatnya sama juga. Culas.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa niatnya culas ?

Kalau niat Hanung baik, misalkan terhadap yang buruk-buruk itu dia mau mengeritik secara konstruktif, maka dia akan berikan perbandingan pesantren yang rapi indah, tidak kumuh dan dia tonjolkan tokoh Kiyai yang berwibawa, yang memancarkan sinar seperti lambang Muhammadiyah. Itu tak dilakukannya.

Pak Taufiq, bagaimana jalan cerita film Perempuan Berkalung Sorban itu, yang novel aslinya ditulis Abidah El Khaliqy ?

Wah, saya tidak mau jadi petugas humas Hanung itu, menjelas-jelaskan jalan cerita filmnya untuk pembaca. Buat apa? Itu bukan kerja saya. Anda sebagai wartawan, tuliskan sendiri ringkasan ceritanya. Itu tugas anda. Mengingatnya saja sudah muak saya.

Sudah sedemikian tidak nyamannya perasaan Pak Taufiq ?

Bukan saja tak nyaman. Muak. Mual.  Anak muda ini mau menunjukkan dirinya kreatif, super-liberal, berfikiran luas, tapi dengan mendedahkan kekurangan-kekurangan dan cacat-cela ummat, yang dilakukannya dengan senang hati. Bahkan mengarang-ngarang hal yang tidak ada.

Misalnya bagaimana ?

Misalnya diada-adakannya adegan rajam. Di pesantren tidak ada hukuman rajam terhadap pelaku zina seperti fantasi dalam kepala Hanung itu. Kemudian tokoh Nyai, isteri Kiyai lewat dialog memberi komentar tentang hal itu dengan mengutip Injil tentang Maria Magdalena. Apa hubungannya itu? Kenapa harus diambil dari khazanah Kristen? Pengambilan khazanah Kristen bisa saja, tapi baru masuk akal kalau sebelumnya ada pendahuluan reasoning, ada pemaparan logikanya. Ini tidak ada. Mendadak saja, ujug-ujug, kata orang Pekalongan. Kentara betul Hanung mau tampak hebat, memperagakan luas horison pandangannya. Sok betul. Sombong.

Apakah di novel aslinya ada adegan rajam itu ?

Mboten wonten, Mas. Tidak ada. Di sini terjadi improvisasi sutradara. Dan ini improvisasi yang kurang ajar. Maaf keras betul kalimat saya. Maaf. Di bagian ini Hanung tidak minta permisi pada novelis Abidah El Khaliqy, tidak amit-amit. Dia main terjang saja. Dia tidak kenal etik.

Apakah penambahan jalan cerita atau improvisasi harus izin novelisnya ?

Tidak harus begitu. Tergantung bentuk kontrak juga. Tapi sebagai sesama seniman dalam kreasi karya bersama begini, paling tidak harus ada diskusi. Diskusi tersebut dalam hal ini tidak ada.

Tidak ada ? Bagaimana Pak Taufiq tahu ?

Saya pernah tanya Abidah. Mereka pernah ada diskusi tentang esensi cerita, mengenai feminisme, tentang kehidupan pesantren, tetapi mengenai rajam tidak ada. Lalu…

Lalu bagaimana, Pak Taufiq ?

Lalu dia tabrak saja, jebret, bikin adegan rajam. Lantas fantasi dusta berikutnya yang menyolok adalah adegan pembakaran buku di pesantren itu. Di novel Abidah tak ada adegan pembakaran buku. Abidah lebih logis dan tidak sok seperti Hanung.

Seingat saya pembakaran buku pengarang-pengarang anti komunis dilakukan PKI dan ormas-ormasnya di tahun 1964 atau 1965, betul Pak ?

Betul sekali.  Nah, di pesantren itu, di kelompok santri, ada diskusi buku. Dibicarakan tentang pengarang yang tertindas, ditahan tanpa diadili, tapi tetap kreatif, tetap menulis buku. Yang dimaksud adalah Pramudya Ananta Tur. Diperlihatkan kulit buku novel Bumi Manusia, yang dilemparkan ke dalam unggun. Adegan ini dibikin-bikin, dan bodoh betul.

Maksudnya ?

Pertama, adegan ini dalam novel tak ada. Jadi ini keluar dari otak Hanung sendiri, tanpa permisi novelisnya. Kedua, kalau dia betul-betul anak Muhammadiyah, maka pengarang yang tertindas, ditahan tanpa diadili 2,5 tahun, tapi tetap kreatif, menulis buku, maka pengarang itu adalah Buya Hamka. Bukan Pramudya. Yang wajib disebut adalah Buya Hamka. Hanung ini, yang mengaku-ngaku anak Muhammadiyah, ternyata buta sejarah perjuangan tokoh besar Muhammadiyah ini. Karya luar biasa Buya Hamka  tersebut adalah Tafsir Al Qur’an Al-Azhar, yang dirampungkannya dalam tahanan, selesai 30 juz, dikagumi seluruh dunia Islam.

Kalau begitu Hanung keliru besar, menokohkan Pram dalam hal ini ?

Sangat keliru ! Tapi memang pada dasarnya dia kekiri-kirian, mode anak muda zaman kini, tidak sadar mengangkat diri sendiri jadi agen muda Palu Arit. Lagi-lagi Hanung rabun sastra: Pramudya tahun 50-an 60-an dalam karya-karyanya sinis terhadap orang sholat, benci kepada haji. Tokoh-tokoh haji dalam novel-novelnya buruk semua: mindring, kaya, bakhil, membungakan uang. Tapi di luar ini semua, menjelang meninggalnya, tanda-tanda menunjukkan Pramudya khusnul khatimah. Alhamdulillah. Mudah-mudahanlah Pram beroleh hidayah. Allah berbuat sekehendak-Nya.

Kembali kepada rasa tidak nyaman Pak Taufiq tadi…

Lebih dari tidak nyaman. Muak. Mual.

Silakan kalimat penutup, Pak.

Saya merasa dihina dan dilecehkan oleh film Perempuan Berkalung Sorban, disutradarai Hanung Bramantyo, yang menistakan lembaga pesantren dan tokoh Kyai, waratsatul anbiya, berlindung di balik topeng kebebasan kreasi dengan sejumlah improvisasi yang bodoh dalam semangat super-liberal. Para aktivis seni Marxis-Leninis-Stalinis-Maois saja di tahun 50-an 60-an tidak ada yang bisa membuat film pelecehan pesantren dan Kiyai seperti yang dilakukan Hanung di abad 21 ini. Kalau dia sudah beredar lima dasawarsa yang lalu, maka Hanung Bramantyo bagus diusulkan mendapat Bintang Joseph Stalin atau Anugerah Dipa Nusantara Aidit.***
Sumber:
http://www.suara-islam.com/news/berita/wawancara/964-hanung-kau-keterlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau-burukkan

 

Download Rumus Fisika per SKL untuk UN 2012

Buat siswa Kelas XII khususnya Jurusan IPA, silahkan download Rumus-rumus Fisika per SKL untuk persiapan Ujian Nasional 2012 yang tinggal 9 hari lagi.

DOWNLOAD

 

Mengcopy Data Dari CD atau DVD Yang Rusak

recovery data cdDalam kasus sistem operasi crash atau mungkin sistem operasi rusak sama sekali, Anda pasti perlu untuk menginstal ulang sebagian besar perangkat lunak Anda. Umumnya dalam komputer, selain dari sistem operasi, pasti banyak aplikasi juga. Jika Anda cukup beruntung memiliki cadangan CD-nya, Anda juga dapat mengembalikan file data pribadi Anda. Tetapi bagaimana jika CD Driver rusak? Bagaimana mengambil data dari CD yang rusak?. Rusak yang saya maksud adalah CD yang sudah tidak bisa dibaca komputer secara normal, bukan CD yang pecah dan rusak total secara fisik.

 

Mungkin Anda memiliki hard drive kedua untuk menyimpan semua backup pada, atau mungkin Anda menggunakan fasilitas backup online yang ditawarkan di internet. Tapi jika Anda tidak memiliki atau tidak menggunakan salah satu, kemungkinan Anda memiliki backup Anda pada CD-ROM atau DVD. Dalam kebanyakan kasus jika CD atau DVD sudah sedikit lebih tua, atau telah digunakan begitu sering sehingga banyak goresan dan hampir tidak terbaca. Itulah masalahnya.

Jika Anda menjalankan MS Windows, Anda memiliki masalah mengembalikan file dari CD atau DVD yang rusak. Sistem operasi akan mencoba untuk mengakses disk dan membaca file sistem didalamnya. Jika gagal, Anda tidak dapat mengakses salah satu file di dalamnya. Dan bahkan jika dapat membaca daftar folder dan file, masih ada kemungkinan file rusak. Setelah komputer mulai menyalin, Windows akan berhenti beroperasi bila gagal membaca atau mengcopy file.

Gunakan Software Unstoppable Copier

Kebanyakan dari folder dan file informasi, serta data file sebenarnya masih dapat diakses pada CD atau DVD yang rusak. Hanya saja Windows susah membaca disk yang kabur. Jadi diperlukan sebuah program yang memberi cara pendekatan kepada Windows dan mengabaikan bagian yang buruk dari disk. Di sinilah gunanya Unstoppable Copier.

Program ini dapat didownload dari roadkil (http://roadkil.net/program.php?ProgramID=29). Bentuknya adalah file ZIP kecil jadi ringan didownload. Silakan Anda pilih sesuai spesifikasi sistem operasi. Setelah download, silakan install ke komputer. Ketika mulai, Anda akan disajikan dengan jendela utama.

unstoppable-copier

Hal pertama yang harus dilakukan adalah melihat tab [Settings] untuk melihat konfigurasi aplikasi.

unstoppable-copier2

Program ini memiliki pilihan yang luas untuk data recovery. Pilihan dapat digunakan untuk berpindah dari [Best Data Recovery] ke [Fastest Data Recovery], tetapi pilihan kedua ini jelas mengurangi upaya yang dilakukan untuk merestore file. Demikian pula, Anda dapat menetapkan jumlah maksimum retries untuk operasi menyalin file. Jika Anda tidak ingin merestore file dari kawasan yang rusak dari CD atau DVD, pilih [Auto Skip Damaged Files] untuk mempercepat operasi copy.

Sebagai pilihan yang bermanfaat adalah [Undamaged Files First], karena pertama akan menyalin semua file yang tidak memiliki masalah dan kemudian berfokus pada file yang rusak. Jika waktunya terlalu lama, Anda dapat memutuskan operasi copy dengan anggapan bahwa semua file yang masih baik telah disalin.

Kembali ke jendela tab [Copy] di bagian atas, Anda dapat memulai pemulihan data dari CD atau DVD. Klik tombol [Browse] di sebelah kanan bidang [Source] dan pilih drive CD / DVD. Berikutnya klik tombol [Browse] untuk [Target] dan pilih lokasi disk di mana Anda ingin menyimpan file restore. Semua yang tersisa sekarang adalah dengan menekan tombol Copy dan duduk sambil minum kopi manis. Tunggu hingga proses selesai.

data-recovery

 

Lain kali Anda hati-hati memperlakukan CD-ROM atau DVD, agar tidak sakit kepala gara-gara CD-ROM atau DVD tidak dapat dibaca komputer.
Sumber: http://agussale.com/mengcopy-data-dari-cd-atau-dvd-yang-rusak

 

Enaknya dapet Duit sambil Download

uangd ownload

Kehadiran Internet telah mengakibatkan revolusi besar-besaran dalam segal lini kehidupan manusia modern. Gaya hidup (life style) manusia banyak berubah, baik dalam hal korespondensi, komunikasi (via video call, sms gratis, chatting), games online, cari jodoh online, bisnis online, sharing file, hingga download ribuan software gratis, lagu, dan video.

Peluang internet sebagai sumber penghasilan bukanlah isapan jempol. Sudah banyak orang Indonesia yang meraih penghasilan ratusan juta rupiah bahkan mencapai angka miliaran. Ada juga yang mendapatkan penghasilan dalam mata uang dolar. Mereka ini berbisnis melalui affiliate (agen penjualan sebuah produk secara online). Tidak sedikit yang meraih puluhan juta rupiah atau ribuan dollar hanya dengan mendownload file.

Selama ini mungkin anda banyak mengeluarkan uang untuk biaya internet, baik melalui warnet atau menggunakan modem, atau sekedar numpang di area hotspot umum atau wireless kantor anda. Tetapi pernahkah anda berfikir bahwa internet bisa jadi sumber uang buat anda.

Salah satu cara mendapatkan uang dari internet adalah dengan mendownload program. Kok bisa? Itulah yang dilakukan oleh website download. Anda tidak perlu mencari file bersusah payah di Google atau Yahoo. Tetapi cukup mendaftar di situs ini, maka anda bisa menikmati ribuan file yang siap anda download. Sambil download anda bisa memperolah penghasilan. Setelah mendaftar, anda bisa mendownload dan mengajak teman atau saudara anda untuk juga menjadi pendownload. Dengan cara ini maka uang anda akan terus mengalir selama rekan yang anda ajak itu juga mengajak teman lain untuk ikut program download ini.

Software atau Program apa saja yang bisa anda download di situs ini? Tentu bermacam-macam. Jenisnya antara lain:

  • Ebook
  • Film/Video
  • MP3
  • Games
  • Sistem Operasi
  • Software untuk HP
  • Script web
  • Software
    • Anti Virus
    • Driver
    • Utility
    • Audio
    • Video Converter
    • Multimedia
    • Diagnostic
    • Hacking
    • Design
    • Education
    • Statistic
    • MS Office
    • Networking
    • Burner
  • Template
  • Tutorial
  • dll

Ide Penyatuan Zona Waktu Indonesia, Sebuah Bukti Kekerdilan Bangsa

1331565913327315721

Dengan penetapan zona waktu tunggal menjadi Greenwich Mean Time (GMT) +8, menurut Hatta, waktu Indonesia akan sama dengan waktu Malaysia dan Singapura. “Kalau zona waktu sama dengan negara-negara tetangga, ada penghematan besar dalam jam kerja, traffic, maupun aktivitas ekonomi,” ujar Hatta.” (www.tempo.com , 12 Maret 2012).
Ide penyatuan itu didasarkan beberapa alasan:

  • penyatuan zona waktu katanya akan berdampak pada penyederhanaan tata kelola di berbagai sektor, termasuk transportasi dan perbankan.
  •  Kesamaan waktu dengan Singapura, Malaysia, dan Hong Kong juga membuka kesempatan bisnis baru
  • Keuntungan penyamaan zona dapat pula dirasakan oleh Bursa Efek Indonesia karena tidak lagi menjadi pengikut bursa Singapura.

Demikian alasan yang diutarakan pak Menko Ekoin itu. Para pengusaha pun dikabarkan juga setuju akan ide ini. Tapi sesederhanakah itukah alasannya?

Menurut Thomas Djamaluddin, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan Antariksa (Lapan),  satu zona waktu justru berpotensi inefisiensi jam kerja.

Djamal menjelaskan, inefisiensi terutama untuk komunikasi dinas atau bisnis. Sebab, di Indonesia yang mayoritas muslim ada faktor salat lima waktu yang harus dipertimbangkan. Kalau kawasan barat mengikuti zona waktu Indonesia bagian tengah, otomatis pekerja di Indonesia bagian barat akan membutuhkan waktu lebih lama untuk istirahat dan ibadah. Thomas mencontohkan, istirahat bagi pekerja di barat yang biasanya pukul 12.00-13.00 WIB akan menjadi 11.00-12.00 WIB atau 12.00-13.00 WITA. Adapun waktu salat Zuhur yang disatukan dengan istirahat tentu belum masuk. Karena istirahat berakhir pukul 12.00 WIB atau 13.00 WITA. “Maka pekerja tentu akan minta tambahan waktu untuk ibadah,” ujar dia. Tambahan waktu tentunya bisa membuat komunikasi dinas dan bisnis tertunda.

Selain Jamaludin, Dosen astronomi Institut Teknologi Bandung Moedji Raharto mengakui bahwa penyatuan zona waktu membuat kawasan barat jadi lebih terburu-buru. “Sementara yang di timur Indonesia justru jadi lebih santai,” kata dia yang dihubungi terpisah.


Perlu Pengkajian Komprehensif

Jika ide pak Hatta Radjasa itu jadi diterapkan, tentu saja akan membawa banyak dampak baik secara geografis maupun biologis. Kita ambil contoh, jika di Lombok (WITA) matahari terbit tepat pukul 06.00 , maka di jakarta, pukul 06.00 itu sudah agak siang. Jadi nanti harus ada penyesuaian jam kerja. Tetap saja akan mengikuti posisi matahari seperti sekarang dalam 3 zona waktu.

Penyatuan 3 zona waktu menjadi 1 zona juga menunjukkan bahwa negara kita bukanlah negara besar yang harus diakui memiliki panjang 45 derajat bagian bumi (1/8 keliling bumi = 5200 km). Padahal seharusnya yang diatur dalam masalah ekonomi bukanlah penyatuan zona waktu,. Masalah utama ekonomi Indonesia adalah masalah distribusi barang yang tidak merata, tidak terkait dengan perbedaan waktu.

Jadi sebelum ide ini akan dilaksanakan, pemerintah harus mengkaji secara integral dan komprehensif terhadap segala dampak yang ditimbulkan. Janganlah hanya dengan alasan ekonomi semata, kemudian mengabaikan dampak non-ekonominya.

13315675821203928996

Negara Indonesia sangat panjang. Menurut hitungan Google Earth, panjang Indonesia = 5.339,69 km. Menjadikan Satu zona waktu untuk negara sepanjang ini tentu tidaklah tepat secara geografis. Matahari terbit di papua pukul 07.00 WIT, di Lombok pukul 06.00 wita, dan di Aceh pukul 05.wib. Zona waktu saat ini sudah sesuai dengan perjalanan matahari yang berkisar, terbit pukul 06.00 dan terbenam pukul 18.00 walau ada selisih di beberapa daerah dalam 1 zona. Jika semua daerah akan dijadikan satu zona waktu (menggunakan WITA), maka pukul  06.00 di Lombok tepat matahari baru terbit, sedangkan di Papua pukul 06.00 sudah siang, dan di Aceh pukul 06.00 masih gelap.

Indonesia Seharusnya Menjadi Acuan di ASEAN

Secara geografis, Indonesia termasuk negara yang besar. Bayangkan saja luasnya seperti Amerika Serikat. Secara Demografis, Indonesia juga adalah negara besar. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta orang. Jumlah itu menempatkan Indonesia pada posisi keempat dalam urutan negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar pertama adalah China (1,34 miliar), kedua India (1,18 miliar), dan ketiga Amerika Serikat (310 juta).

Melihat potensi sebesar itu, maka sudah selayaknya Indonesia sejajar dengan negara maju Amerika Serikat baik dari segi Sumber Daya Alam (SDA) maupun geografis. Hanya segi Sumber Daya Manusia (SDM) yang perlu ditingkatkan. Sering kita dijadikan pasar MLM dari China dan Malaysia karena banyaknya manusia Indonesia. Negara kecil seperti Singapura dan Malaysia punya visi menjadi negar maju pad 2020, sedangkan Indonesia masih lamban.
Tulisan ini telah dimuat di www.kompasiana.com/subkioke

 

Menikmati Kuliner di Taman Kota Selong (Lombok)

taman-selong

Sore tadi tiba-tiba si kecilku menangis. Sepertinya dia sudah bosan di dalam rumah terus seharian dan mimiknya yang lucu dan menggemaskan itu menandakan dia mau dibawa jalan-jalan ke luar rumah. Maka kuajaklah serta ibunya untuk Jalan-Jalan Sore (JJS) ke Taman Kota Selong di Lombok Timur NTB.  Kebetulan letaknya tidak jauh dari rumah dan butuh waktu 5 menit saja. Di samping itu ada perubahan yang menarik minat saya terkait fasilitas di Taman Kota Selong ini, yakni adanya deretan tempat makan berupa Lesehan yang tertata rapi.

Taman Kota Selong ini sendiri tepat berada di jantung kota selong. Di sebelah selatannya ada Kantor Bupati Lombok Timur, Kantor Dinas Perpajakan, dan Kantor Pos. Di sebelah Baratnya ada kantor Pengadilan, kejaksaan, pegadaian, BAPPEDA, Kantor DEPAG, dan Makam Pahlawan Rinjani. Sementara di sebelah utara di seberang jalannya ada BRI Cabang Selong yang baru direnovasi dengan tampilan yang lumayan megah. Di sebelah Timurnya ada kantor Koperasi, Kantor Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kantor KPU Lombok Timur, Kantor Camat Selong, dan Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Tidak jauh dari Taman Kota ini, terdapat fasilitas publik, seperti Rumah Sakit Umum Daerah Raden Soedjono Selong, Kantor PLN, dan Kompek Pendidikan Yayasan Hamzanwadi Pancor seperti STKIP Hamzanwadi Pancor, IAIH Pancor, SMA/SMK/MA NW, STMIK-LPWN Hamzanwadi pancor.

Keadaan strategis itulah yang membuat Taman Kota Selong ini selalu ramai dikunjungi oleh warga kota selong dan Pancor. Bahkan masyarakat dari daerah yang jauh pun sering mampir untuk makan dan minum sambil beristirahat di sini. Maklumlah, rimbunnya pepohonan di sini menjadikannya juga berfungsi sebagai hutan kota yang didambakan warga kota yang sehari-harinya selalu kepanasan di dalam ruang kantor dan hiruk-pikuk kehidupan kota.

Setibanya di Lesehan Taman Kota ini, saya agak kebingungan memilih lapak yang mau saya kunjungi. Hampir semua lapak penuh oleh penjual bakso, es kelapa muda, nasi, soto ayam, durian, rambutan, dan lain-lainnya. Saya pilih Lapak Bakso Arema yang memang saya sukai semenjak kuliah di Malang 18 tahun yang lalu. Saya langsung pesan 2 mangkok bakso dan 2 gelas es kepala muda (maaf maksudnya es kelapa muda, orang sasak menyebutnya: es kenyamən). Sebenarnya sih di Lombok Timur ini begitu banyak jenis bakso yang bisa kita pilih selain di Taman Kota ini, seperti: bakso Pejanggik, Bakso Surabaya, Bakso Goyang Lidah, Bakso 22, Bakso Solo, Bakso Lokal, dan yang baru saja membuka cabang adalah Bakso Kepala Sapi.

Saya dan istri, beserta si kecil Humairo (13 bulan) begitu asyik menikmati bakso Arema ini. Si kecil kelihatan senang sekali, dan tidak terlihat menangis lagi. Memang suasana di Taman Kota ini serasa dalam hutan karena udaranya sejuk sekali, apalagi di musim hujan begini. Ketika cuaca semakin dingin, maka bakso tentu saja menjadi pilihan banyak orang dan menjadi sangat enak. Sehingga ada anekdot yang mengatakan: “Berbahagialah para penjual bakso di musim hujan dan bersedihlah para penjual es”. Tubuh yang dingin tentu saja butuh kalor tambahan dari luar agar terjadi kesetimbangan kalor dalam tubuh (menurut Hukum I Termodinamika dalam fisika).

Jika anda adalah pengunjung yang baru pertama kali di Taman Kota ini, maka anda tidak perlu khawatir. Karena letaknya di jantung kota, maka keamanan tentu saja terjamin. Jarang kita dengar adanya gangguan di sini. Masalah fasilitas bisa dikatakan lengkap. Di sini tersedia Musholla dan Toilet. Tempat Buang Sampah telah disediakan di banyak tempat. Ada juga fasilitas untuk Jogging. Setiap pagi, sore, apalagi pada Minggu Pagi warga yang berolahraga jogging begitu ramai di sini. Ketika sore hari menjelang Maghrib, biasanya warga menikmati lezatnya Jagung Bakar (bahasa sasaknya: jagung tunuk). Khusus pengunjung yang mengajak serta anak-anak kecil, di taman ini tersedia juga kereta api mini. Jadi cukuplah kiranya tempat ini dijadikan alternatif untuk rekreasi dan rehat bersama keluarga bahagia anda.

Sore hari hingga larut malam, di sebelah utara taman ini telah disediakan lapak khusus untuk pedagang kaki lima. Hampir semua jenis menu ada di sini. Mulai dari jagung bakar, aneka gorengan, soto ayam, pecel lele, ikan bakar, bakso, lalapan, bebek goreng, soto lamongan, sate kambing madura, dan lain-lainnya.

Namun sayang sekali, hasil jepretan saya dengan kamera china XP sepertinya rusak dan tidak tersimpan, sehingga tidak bisa ditampilkan di sini. Gambar paling atas diambil dari website www.ntbterkini.com

Tulisan ini juga telah diposting di laman website Kompasiana.com:

http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2012/03/09/menikmati-kuliner-di-taman-kota-selong-lombok/


Media Pornografi Itu bernama TV

hoax-quote.blogspot.com

Minggu pagi ini, ketika pertama kali menghidupkan Televisi, tersajilah beragam acara infotainment seperti SILET di RCTI, dan Was Was di SCTV. Seperti sudah sama-sama kita ketahui bahwa sebagian besar konten beritanya seputar aktivitas selebritis, mulai acara harian sang selebriti hingga acara wedding party seperti acara Weddingnya Shandy Aulia yang begitu wah.

Image berita yang ditayangkan pun banyak menyorot gaya berpakaian para artis. Mulai gaya artis yang menjadi obyek berita atau gaya artis yang menjadi tamu undangan pada acara tersebut.

Berbicara masalah pakaian ini, tentu saja semua pemirsa TV yang kebetulan menyaksikan acara ini -mau tidak mau- akan melihat aneka gaya modis para artis. Dari gaya rambut, gaya belahan dada, hingga belahan paha di bagian bawah, hingga gaya lutut dan terakhir sepati hak tinggi.

Masih ingatkah anda, bagaimana Jupe mendapat protes dari KPI gara-gara lagu “belah duren” yang berkonotasi porno, dan yang terbaru dari KPID NTB, soal lagu Jupe “Jupe paling suka 69″. Bagi anak kecil mungkin tidak tahu apa maksud dari angka 69 ini. Tetapi bagi yang sudah berumur 17 tahun ke atas -atau mungkin lebih muda lagi- pasti sudah faham betul maknanya.

Ada juga kasus Farah Quinn, sang Chef seksi, menjadi sorotan semenjak mendapatkan teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia. KPI menilai gaya berbusana Farah saat tampil di salah satu episode tayangan kuliner di Trans TV, Ala Chef, dinilai terlalu terbuka karena mengumbar bagian tubuh pribadinya. Gara-gara busananya itu, Farah Quinn mendapat protes.

Kembali ke masalah gaya pakaian para artis. Hampir semua stasiun TV di Indonesia menayangkan acara yang sama, dengan menampilkan “gaya pamer aurat” para artis. Bukan sekali dua saja. Hampir setiap hari infotainment ini menayangkan “belahan dada” para artis.

Sepertinya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), masih tebang pilih dalam menyeleksi tayangan TV ini. Dengan alasan kebebasan berekspresi, para artis semau gue berpakaian ala artis Hollywood atau Bollywood. Tengoklah, bagaimana baju ketat Ashanty di acara Dahsyat beberapa saat yang lalu menuai protes dan komentar negatif di Yahoo.com. Lagi-lagi, Ashanty menyembulkan buah dadanya di acara Lamarannya dengan Anang Hermansyah.

Sepertinya para artis di Indonesia menjadi duta porno melalui media Televisi ini. Dan pemerintah pun sepertinya tidak peduli dengan acara ini. Apatah gunanya Bapak Kemendikbud Muhammad Nuh memaksa guru-guru menanamkan “Pendidikan Karakter Bangsa” dalam silabus dan RPP, kalau toh media televisi ini jauh lebih kuat ototnya beradu pengaruh dengan ceramah gurunya di kelas atau khotbah para dai dan khotib di Masjid-masjid.

Artinya?

Iman seseorang bisa kuat 100% jika berada di rumah atau di sekolah. Tetapi akan melorot drastis sang iman itu, jika seseorang menyaksikan tayangan di Televisi, di HP, atau di tempat lain di luar sekolah.

Jadi mau dibawa ke manakah pendidikan moral bangsa ini?
Akankah TV akan menjadi guru sejati? mengalahkan khotbah para guru mereka di sekolah?

Berhenti menonton TV memanglah sulit, kecuali pemerintah bisa mengontrol tayangan yang berbau pornografi demi terjaganya moral rakyat dan anak-anak bangsa. Bahkan saat ini, di negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika sudah mulai mengontrol secara ketat tayangan yang berbau porno pada saat jam tayang keluarga (prime time). Sudah saatnya Indonesia juga bertindak sama jika mau selamatkan bangsa.

Sangat bijak sekali, kalau anda membaca tulisan rekan-rekan kompasiana seputar TV ini:

Sumber: http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2012/02/26/media-pornografi-itu-bernama-tv/

Ujian Nasional yang Menjadi Monster

1329374104694637871Gambar: images.google.com

Hari ini adalah hari keempat pelaksanaan Uji Coba Ujian Nasional II yang dilaksanakan serentak oleh SMA dan MA di seluruh Kabupaten Lombok Timur NTB. Kegiatan ini awalnya dikoordinir oleh Dinas Dikpora Kabupaten tetapi tahun ini dipercayakan pelaksanaannya kepada Forum MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah). Uji Coba direncanakan selama 3 kali. Tujuan dari kegiatan ini tidak lain (menurut Pihak Dinas PDK) adalah untuk melatih dan membiasakan siswa kelas XII menghadapi UN tahun 2012 ini.

Ujian Nasional telah Menjadi Monster

Pelaksanaan UN telah menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan praktisi pendidikan. Baik itu unsur guru, sekolah, dinas PDK, bupati, menteri pendidikan hingga Presiden. Apakah UN tetap dilaksanakan atau dihapuskan saja. Memang banyak pihak yang pro tetapi tidak sedikit juga yang kontra.

Begitu galaknya sang monster UN, sampai-sampai semua sekolah harus kerja keras banting tulang untuk berupaya meluluskan siswanya dalam UN ini. Proses belajar di kelas XII pun harus banyak diabaikan oleh guru (pihak sekolah), karena waktu belajar mereka harus dihabiskan, yang sedianya waktu satu semester itu 6 bulan menjadi hanya 2 bulan saja-. Karena bulan Maret ini sekolah harus melaksanakan Ujian Praktik dan Ujian Sekolah sebelum nanti tanggal 16 April 2012 (untuk SMA) ujian nasional utama dimulai.

Artinya apa?

Pemerintah lebih mengutamakan hasil dan banyak mengabaikan Proses (transfer of knowledge)
Tulisan telah terbit juga di www.kompasiana.com/subkioke

 

Putri Cantik Itu Menjelma Menjadi Cacing Laut

Legenda Sang Putri

1329273150219052618

Dahulu kala terkisahkan, seorang putri raja nan cantik bernama Putri Mandalika menjadi rebutan para pangeran. Ia adalah putri dari seorang raja yang pernah memerintah negeri Pulau Lombok nan elok. Wajahnya yang elok, tubuhnya yang ramping, dan perangainya yang baik membuat para pengeran dari berbagai negeri berkeinginan untuk memperistrinya. Setiap pangeran yang datang melamar, ia tak pernah menolaknya.

Namun, antara pangeran yang satu dan pangeran lainnya keberatan jika sang putri diperistri oleh banyak pangeran. Hal inilah yang dikhawatirkan Putri Mandalika menjadi pemicu terjadinya perang saudara antar pangeran. Sang putri gelisah dan selalu termenung memikirkan cara mencegah pertumpahan darah.
13292732021200662069

Agar tak terjadi perang, Putri Mandalika pun menyerahkan cintanya untuk seluruh pangeran dan rakyatnya. Melalui sebuah peristiwa alam, yang ditandai dengan angin besar, suara gemuruh dan hujan deras, di saat bulan purnama (tanggal 20 bulan 10 menurut Kalender Sasak Lombok), sang putri menyeburkan dirinya ke laut. Tidak seorang pun dapat menemukan sang putri. Sebaliknya, yang muncul adalah nyale, sejenis cacing laut yang muncul dari bebatuan di pagi harinya. Dipercaya oleh masyarakat Suku Sasak Lombok jika nyale yang warnanya sangat indah merupakan jelmaan Putri Mandalika.

Berdasarkan legenda itulah, akhirnya kini setiap tahunnya masyarakat Lombok menggelar pesta bau nyale. Jumlah cacing yang diperoleh dianggap tanda baik dan buruk nasib dan rejeki seseorang. Hasil tangkapan nyale ini dapat dinikmati masyarakat.
1329273272629713541
Tahun ini, tradisi bau nyale dilaksanakan pada Minggu, 12 Februari 2012 malam hingga Senin Pagi saat Nyale muncul dari karang-karang laut. Dalam menyambut pesta bau nyale, selama sepekan masyarakat Lombok mengadakan berbagai pesta budaya. Berbagai ritual dan acara budaya digelar di daerah Pantai Seger Kuta.

Dan untuk tahun ini, penyelenggaraan bau nyale dihelat bersama wisata sepeda bersama sejumlah artis Ibu Kota, seperti Dwiki Dharmawan, Ita Purnamasari, Firman ‘Idol’, Endita, dan sederet artis lainnya (www.okezone.com)

Apa itu Nyale?

Ta13292733431926011919hukah Anda apa yang mereka cari saat pesta mbau Nyale ? Cacing! Adalah Nyale, cacing berwarna-warni yang konon merupakan jelmaan rambut Putri Mandalika. Cacing-cacing yang bersembunyi di sela-sela karang ini, keluar mulai tengah malam menjelang pagi. Sehingga tak ayal, sebagian pengunjung yang punya niat kuat mencari Nyale sudah datang sejak malam hari sebelumnya. Sampai-sampai banyak Turis Mancanegara belai-belain diri ke tempat ini.

Anehnya, ketika matahari mulai terbit, Nyale pun lenyap tak bersisa, seperti tak pernah ada. Inilah yang menambah keyakinan rakyat bahwa nyale (cacing laut itu) adalah Putri Mandalika.

Para pengunjung naik ke bibir pantai dan meninggalkan lokasi untuk kembali pulang ke rumah. Tak hanya orang tua, anak kecil juga ikut meramaikan puncak acara ini. Ribuan pengunjung yang telah memadati area Pantai Seger (di Lombok Tengah) dan Pantai Kaliantan (di Lombok Timur) berhamburan dan memadati seluruh badan jalan.

1329273394975539331
Sumber: www.images.google.co.id

Senyummu Mengobati Lukaku

13279975411135797146

Tepat pukul 08.30 saya membuka pintu Bank dan langsung disambut oleh pak Satpam. “Selamat pagi Pak?, ada yang bisa saya bantu?” sapanya. “Selamat pagi juga. Saya mau buka rekening pak” ujar saya.

Sekalipun saya agak pagi datangnya, ternyata ada teman dari pelosok Lombok Selatan yang sudah datang sejak pukul 07.00 karena sudah membayangkan harus antri seperti biasanya di Bank.

Lama menunggu lantas berbunyi speaker dan tertulis di layar monitor komputer: “Nomor 4… 5….6…… ………”
Padahal nomor antrian saya nomor 23. Waduh kapan giliran saya ya?
Perasaan sudah mulai tak sabar.

Saya lihat jarum jam menunjukkan pukul 11.00, berarti saya antri sudah 2,5 jam.
Rasa bosan antri sudah menerpa. Dua orang teman yang antri di sebelah saya hampir bertengkar dengan pak Satpam, gara-gara dia terlompat nomor antriannya. Nomor antriannya 3 harus dibatalkan karena dia baru datang dari beli map. Padahal dia sudah dipanggil berkali-kali. Teman ini pun marah dalam hati dan mengatakan “Bank ini tidak memuaskan, pelayanannya jelek“.

Ya wajar saja, sudah antri 3 jam tiba-tiba nomornya ditukar menjadi nomor 31 oleh Pak Satpam atas perintah dari mbak CS. Itu artinya dia akan dapat giliran sehabis zhuhur (sekitar jam 14.00).

Saya pun juga bisa membaca ketidakpuasan pelanggan di Bank ini. Nasabah dan calon nasabah cukup banyak sementara karyawan di bagian “Customer Service” hanya ada 2 orang. Seharusnya Bank-bank daerah yang mulai menggeliat maju (semenjak otonomi daerah) bisa semakin profesional melayani nasabah. Jangan sampai ketus melayani pelanggan akan berakibat fatal buat kelangsungan Bank itu sendiri. Bukankah di mana-mana bank atau jenis jasa lainnya akan selalu menomorwahidkan pelanggannya?. Pelanggan seperti raja. Lihat saja bagaimana Pramugari nan cantik di atas pesawat terbang selalu menebar senyum semenjak kita memasuki pintu masuk hingga kita turun dari pesawat.

Tapi untunglah ada mbak Mimie yang manis dan ramah. “Nomor 23….”. Saya lantas maju dan mbak Mimie menyodorkan tangannya untuk bersalaman layaknya sudah kenal saja sama saya (he he). Saya pun menyodorkan berkas. “Pak Subki ya? Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?”. Senyum manisnya mbak mimie menghilangkan rasa penat selama 4 jam antri di Bank yang mulai ramai didatangi oleh nasabah, khususnya para guru penerima Tunjangan Profesi.

Apalagi dengan senyuman manis dan wajah ramah “mbak Utami” sang Teller yang memang cantik built in itu.

Mbak Mimie dan mbak Utami sudah menjalankan tugas keprofesiannya dengan baik. Bukan saja kecantikan fisik seorang pegawai Bank, tetapi senyumnya saja sudah bisa mengobati kedongkolan hati nasabahnya.

Satu pelajaran berharga yang bisa kita ambil di sini -terutama para karyawan atau staf yang bekerja di bidang jasa, seperti pegawai Bank atau Guru- adalah melayani pelanggan (customer) atau murid haruslah diutamakan agar terjadi kepuasan di kedua belah pihak. Sebagai guru, kita harus memberikan pelayanan prima terhadap murid kita layaknya pegawai bank yang menjalankan motto banknya “memberikan pelayanan secara prima“. Bagi pihak bank NTB, tingkatkan pelayanan konsumen agar tetap disukai pelanggan. Jalankan Visi anda “Amanah, anda yang utama“. Jangan sampai karena nasabah jadi dongkol karena ketidakramahan salah seorang CS atau satpam anda, maka bank anda akan dicap “Bank Tidak Baik Pelayanannya”.

Bagi seorang guru, senyum, sapa, dan salam guru kepada muridnya bisa menambah kepercayaan diri siswa dan membuat siswa senang kepadanya.

Maka….Senyumlah, lihat apa yang terjadi.

Mr Q

http://www.kompasiana.com/subkioke

Pembayaran Ke-3 dari ODAP

Malam ini saya menerima email dari ODAP, yang meninformasikan bahwa ODAP sudah mentransfer income Rp. 420.000,- ke rekening BCA saya.

Ini buktinya, jadi jangan ragu. ODAP terbukti aman (sitelock secure) dan pasti membayar kalau sudah batas payout 400 ribu.

Klik Linkdi bawah  ini jika mau mencoba mendapat uang sampingan untuk kuliah, bayar utang, dll. Kerja mudah hasil melimpah.

LIHAT INFONYA DI SINI

 

 

Soal Try Out Fisika & Kunci Jawaban

Yth. rekan guru fisika se-Lombok Timur dan yang ada di seluruh dunia. Berikut ini soal Try Out I Fisika TP 2011-2012 yang sudah selesai digunakan pada kegiatan Try Out I UN tanggal 17 Januari lalu. Semoga bisa menjadi bahan belajar buat anak didik kita di sekolah.

“Gelombang Korea” Menerjang Dunia

Gelombang budaya pop Korea sedang menerjang dunia. Tengoklah, anak muda di mana-mana histeris melihat aksi boyband/girlband Korea. Inilah puncak gunung es dari kisah tentang penetrasi budaya pop Korea di sekitar kita.

Penyanyi Korea, Shi Min-chul, muncul di atas panggung ulang tahun ke-17 Indosiar diiringi jeritan histeris penggemarnya, Kamis (12/1) malam, di Jakarta. Ia berkata, “Saya suka Indonesia, terutama cuaca, makanan, dan… gadis-gadisnya!” Sontak ratusan perempuan yang mendengar ucapan Shi Min-chul klepek-klepek. Mereka berjingkrak-jingkrak kegirangan. “Aaaahhh…. Aku mau jadi gadismu,” jerit seorang gadis belia.

Begitulah penampilan band-band Korea yang mengusung musik pop Korea (K-Pop), seperti Super Junior, Park Jung-min, The Boss, Girls’ Generation, X5, dan N-Sonic, mampu membangkitkan histeria di mana-mana, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di banyak negara, mulai dari Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika.

Hal yang mengagetkan, penggemar K-Pop begitu fanatik. Nadhila (18), remaja asal Bekasi, misalnya, saking cintanya kepada band Korea pernah nekat memburu personel band asal Korea, X5, di Bandara Soekarno-Hatta. “Saya sampai lemas dan kehilangan kata-kata,” kata Nadhila menggambarkan perasaannya ketika berjabat tangan dengan Haewon, personel X5.

Belum puas, Nadhila menguntit X5 hingga ke hotel tempat mereka menginap. Ceritanya cukup dramatis. Ia menyamar sebagai wartawan agar bisa menembus barikade pengamanan hotel. Bersama rombongan wartawan, Nadhila berhasil menemui X5 di lobi hotel. Saking senangnya, ia menjerit keras. “Semua kaget dan menoleh ke arah saya,” kenang Nadhila, yang kini menjadi personel Ladyschool, coverband Afterschool asal Korea.

Imajinasi Korea

Banyak orang menyebut serbuan K-Pop sebagai hallyu atau gelombang Korea (Korean Wave). Gelombang ini awalnya dipicu keranjingan orang terhadap drama romantis Asia, termasuk drama Korea. Dari sini, anak muda Asia kemudian mengenal K-Pop dan menggilainya. Maklum, K-Pop tidak hanya memanjakan telinga dan mata, tetapi juga menancapkan imajinasi tentang selebriti Korea yang berpenampilan apik dan berwajah semulus porselen. Tidak heran, kini banyak anak muda yang ingin “dicetak” seperti selebriti Korea.

Dewi (23), misalnya, seumur-umur tidak pernah mengubah rambutnya yang hitam dan lurus panjang hingga pinggang. Namun, setelah kepincut penampilan artis Korea, ia memotong rambut dan mengecatnya menjadi coklat. Ujung rambutnya dibuat ikal mirip gaya rambut sejumlah artis top Korea. “Saya tidak mencontoh penampilan artis Korea tertentu. Pokoknya gayanya harus Korea,” kata Dewi, yang ditemui di Salon Johnny Andrean di Plaza Semanggi, Rabu.

Hasrat berpenampilan ala Korea ini ditangkap sejumlah pengusaha salon di Jakarta. Mereka ramai-ramai mengusung tema K-Cut Style (potongan rambut Korea). Sederet butik kosmetik Korea, seperti Skin Food, The Face Shop, dan Missha, pun merangsek masuk ke Indonesia. Bahkan, toko roti Korea pun mulai tumbuh di Jakarta.

Ya, tanpa kita sadari, produk serba Korea telah mengepung kehidupan kita, mulai dari mobil, alat elektronik, gadget, hingga jaringan hipermarket Korea. Bahkan, “kampung” Korea juga tumbuh lengkap dengan fasilitas seperti bank, klinik, salon, restoran, hotel, kos-kosan, supermarket, dan toko perlengkapan golf Korea di Jalan Senayan, Jakarta, serta Ruko Pinangsia Office Park, Karawaci, Banten.

Perwakilan perusahaan Korea tumbuh subur di Indonesia. Berdasarkan data Pusat Kebudayaan Korea di Indonesia, saat ini, ada 1.300 kantor cabang perusahaan Korea yang didirikan di Indonesia. Seperti kata Yoon Jae-kwon, salah satu agen artis Korea, “K-Pop sebenarnya hanyalah bagian kecil dari gelombang (penetrasi budaya) Korea ke sejumlah negara.”

Latihan keras

Bagaimana Korea bisa mengekspor produk budaya popnya? Kim Hyun-ki, Direktur Pusat Kebudayaan Korea di Jakarta, menceritakan, awalnya Pemerintah Korea berperan banyak. Sekitar 20 tahun lalu, misalnya, pemerintah memberi beasiswa besar-besaran kepada artis dari berbagai bidang seni untuk belajar di AS dan Eropa. Dari program itu lahirlah artis-artis berpengalaman.

Seni pop Korea—termasuk K-Pop—pun berkembang. Selanjutnya, K-Pop digerakkan sepenuhnya oleh pihak swasta. Kini, ada ratusan rumah produksi yang setiap tahun mencetak banyak artis K-Pop.

Yoon Jae-kwon menceritakan, semua artis K-Pop digembleng selama enam bulan hingga satu tahun. Tampilan fisik mereka juga dipoles sebelum diluncurkan sebagai artis tingkat global. “Sistem pelatihan ini sudah ada sekitar tahun 1990-an dan sangat dirahasiakan. Bahkan, calon penyanyi tidak akan tahu sistem itu sampai mereka ikut pelatihan.”

Korea, kini, memetik buah dari keseriusan menggarap industri pop mereka. Etnews.com, situs berita teknologi informasi Korea mengutip data The Korea Creative Content Agency, memprediksi, pendapatan Korea dari ekspor budaya pop, termasuk musik, sinetron, dan games, di seantero dunia tahun 2011 berjumlah sekitar 3,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35 triliun. Angka ini meningkat 14 persen dibandingkan dengan 2010.

K-Pop juga mendongkrak citra Korea. Jutaan orang tertarik berkunjung ke Korea, termasuk menengok Pulau Nami di Provinsi Gangwon-do yang menjadi lokasi shooting Winter Sonata, sinetron Korea yang meledak tahun 2002. Choi Jung-eun, staf pengelola Pulau Nami, mengatakan, dulu pulau kecil dan sepi itu hanya dikunjungi sekitar 200.000 turis per tahun. Kini, pengunjungnya rata-rata 1,6 juta turis setahun.

Zaman Asia

Gelombang Korea mengalir deras dan tak tertahankan ke sejumlah negara. Ini memang zamannya Asia. “Tidak heran proses asianisasi terhadap kebudayaan global pun terjadi,” ujar pengamat komunikasi Idi Subandy.

Proses pengglobalan budaya pop Korea ini, menurut sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Robertus Robert, sama dan sebangun dengan pengglobalan produk kebudayaan industri kapitalistik lain, seperti burger McDonald dan Coca-Cola. Korea bisa melakukan itu karena residu kebudayaan dominan di Asia memang dekat dengan Korea, selain Jepang dan China. Persebaran penduduk Korea, Jepang, dan China di berbagai belahan dunia kian mengukuhkan dominasi kebudayaan mereka.

Nah, bagaimana dengan Indonesia? Fenomena orang keranjingan budaya pop Korea di sini kian menegaskan bahwa Indonesia hanyalah pasar yang diperebutkan. Robertus Robert pesimistis kita bisa mencetak “Indonesian Wave”. Pasalnya, industri hiburan kita lebih cenderung mencetak pengekor daripada inovator.

Sayang memang. Ini tantangan bagi industri kreatif Indonesia

Sumber:

http://entertainment.kompas.com/read/2012/01/15/18035888/Gelombang.Korea.Menerjang.Dunia

Download POS UN 2012 dan Buku Tanya Jawab UN 2012

Kepada seluruh rekan guru dan Panitia Ujian Nasional 2012, silahkan download Prosedur Operasi Standar (POS) UN 2012 beserta tanya jawab seputar UN 2012. Klik saja link di bawah ini:

  1. Permen-No-59-tahun-2011-ttg-UN
  2. POS-UN-SMP-SMA-SMK-2012
  3. Tanya-jawab-UN-20121

 

Semoga Bermanfaat!

 

Olimpiade Fisika Dunia dilaksanakan di Lombok

Final Round will be held in Lombok, Indonesia from Dec 28, 2011 – Jan 3, 2012.

Jadwal lengkap silahkan lihat di link berikut ini:

http://www.wopho.org/final-news.php?id=15

 

 

Harga Ilmuwan Indonesia

KOMPAS.com - Sebanyak 183 dosen tetap Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengancam mogok mengajar, akhir Oktober 2011. Ancaman itu dilontarkan karena pihak yayasan tidak juga merealisasikan pembayaran gaji tetap. Perlu diketahui, jumlah gaji tetap tersebut sama dengan upah minimum Provinsi NTB, yakni Rp 950.000.

Pada saat yang sama, dari Jakarta dikeluhkan, gaji ilmuwan hanya sepertujuh dari Malaysia atau seperseratus dari Jepang. Menanggapi kecilnya gaji ilmuwan, pemerintah menyatakan bahwa jumlah itu seharusnya diterima. Sebab, memang tidak ada rencana kenaikan.

Dua kasus di atas memberikan gambaran tentang rendahnya penghasilan seorang ilmuwan. Jika menilik Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, untuk menjadi dosen, seseorang haruslah menamatkan strata dua, memiliki sertifikat sebagai pendidik, dan berada di bawah naungan institusi pendidikan.

Untuk memenuhi kualifikasi tersebut, seseorang harus menempuh pendidikan yang tidak singkat dan seleksi formal yang sangat ketat. Dengan kata lain, tidaklah mudah.

Akan tetapi, jika direfleksikan dalam sistem sosial, penghasilan itu menempatkan ilmuwan dalam satu kelompok dengan para buruh pabrik atau pekerja informal. Apa yang sesungguhnya terjadi di tengah-tengah masyarakat kita? Seberapa jauh sistem perundangan mampu mengakomodasi kepentingan para agen ilmu pengetahuan?

Pendapatan

Di negeri ini, berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah dosen di PTN dan PTS sekitar 130.000 orang. Jumlah itu terdiri atas 70.000 dosen PNS, 50.000 dosen PTS, dan 10.000 dosen yang tak tercatat. Pendapatan mereka bervariasi berdasarkan institusi, jabatan fungsional, pengalaman kerja, dan pendidikan.

Jika pendapatan dosen PTN mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 13 juta, dosen PTS jaraknya lebih sempit, yakni Rp 500.000 hingga Rp 3 juta.

Sementara itu, dosen yang berlindung di bawah institusi pendidikan partikelir telah hidup di antara jumlah satuan kredit semester (SKS) dan kebaikan yayasan. Berdasarkan UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen, tepatnya pada Pasal 72 Ayat 2 dinyatakan, dosen wajib mengajar 12 hingga 16 SKS. Apabila satu SKS dihargai Rp 50.000, si dosen hanya akan mendapatkan penghasilan Rp 600.000 hingga Rp 800.000 per bulan.

Apabila dibandingkan dengan para profesional di bidang lain, tentu angka tersebut terlihat “njomplang”. Hal itu karena produk yang dihasilkan para dosen tidak bisa dikalkulasi secara kuantitatif. Contohnya, prestasi para profesional di bidang perbankan, manufaktur, penjualan, dan jasa dapat dilihat dari neraca rugi laba, keluar-masuk barang, dan kurva penjualan.

Sementara itu, seorang dosen hanya menghasilkan produk rencana proses pembelajaran (RPP), bahan ajar, modul, buku, dan makalah. Produk itu tidak memiliki korelasi dengan kenaikan jumlah mahasiswa atau berujung pada kenaikan pendapatan pengelola perguruan tinggi. Paling banter, dalam banyak kasus, gelar seorang dosen dijadikan untuk ”menakut-nakuti” para calon pengguna. Setelah itu, dosen hanya mewah di dalam kampus, tetapi merana di luar.

Faktor penghambat

Berdasarkan fakta di atas, ada dua faktor penghambat sehingga ilmuwan di Indonesia tidak berkembang. Pertama, mekanisme perundang-undangan yang ada tidak melindungi kepentingan dosen. Baik UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen maupun UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tidak menentukan standar kehidupan yang layak bagi seorang dosen. Apalagi, UU tersebut sekaligus menegaskan bahwa dosen tidaklah berlindung di bawah UU Ketenagakerjaan.

Diasumsikan, dosen bukanlah pekerjaan yang sudah pasti menuai penghasilan yang memadai. Pada kenyataannya, menjadi dosen hanyalah persoalan ”bagaimana saya menjalani hidup” dan bukan ”bagaimana saya mencari uang”. Ketika dunia digerakkan dengan mesin, dan segala-galanya diukur dengan uang, semangat ”menjalani hidup” itu hanya akan menjadi idealisme konyol di tengah gurita materialisme dan hedonisme.

Kedua, sistem sosial tidak memberikan ruang bagi kesejahteraan dosen. Pada era 1980-an, konsep pragmatisme perguruan tinggi dilaksanakan melalui rumusan link and match. Ini hanya akan menjadikan dosen sebagai pelatih yang mempersiapkan anak didik sebagai pekerja tanpa memiliki dimensi kreatif.

Pada era 2000-an, konsep pragmatisme itu diperbarui melalui pencanangan universitas riset. Dibayangkan bahwa dosen akan menghasilkan inovasi produk, tetapi pada kenyataannya inovasi itu telah diambil alih oleh lembaga-lembaga swasta yang memiliki dana lebih besar dan respons lebih cepat.

Pada era perdagangan bebas, ketika perguruan tinggi asing dapat dengan mudah masuk di Indonesia, perguruan tinggi telah bergerak lebih praktis dengan cara mendudukkan dosen sebagai pekerja. Sistem operasi perguruan tinggi telah menyamakan diri dengan sistem waralaba produk rumah tangga.

Sistem lemah

Gambaran di atas menunjukkan lemahnya sistem perundangan dan sistem sosial kita dalam melindungi kepentingan kaum ilmuwan. Dengan kata lain, kita tidak sekadar butuh ilmuwan yang mampu menghasilkan produk yang bisa dijual, tetapi juga sistem sosial yang dapat diandalkan untuk kehidupan para ilmuwan.

Pada kenyataannya, ilmuwan masa kini adalah orang pintar yang tidak dibutuhkan masyarakat. Pepatah Jawa, kebo bule mati setra, kerbau putih mati di lapangan. Kerbau putih adalah hewan yang sangat khusus karena hanya dimiliki oleh kaum bangsawan, tetapi harus mati karena tidak ada yang merawat. Ilmuwan telah menjadi komunitas asing yang kehilangan para penyokongnya.

SAIFUR ROHMAN Pengajar Filsafat; Menetap di Semarang

 

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/27/08362254/Harga.Ilmuwan.Indonesia

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.